ABU NAWAS ( SANG PENGGELITIK HATI I


Abunawas – Sang Penggeli Hati

MB. Rahimsya

hKata PengantarNama Abu Nawas begitu populernya sehingga cerita-cerita yang mengandunghumor banyak yang dinisbatkan berasal dari Abu Nawas.Tokoh semacam Abu Nawas yang mampu mengatasi berbagai persoalan rumitdengan style humor atau bahkan humor politis temyata juga tidak hanya ada dinegeri Baghdad. Kita mengenal Syekh Juha yang hampir sama piawainya denganAbu Nawas juga Nasaruddin Hoja sang sufi yang lucu namun cerdas. Kita jugamengenal Kabayari di Jawa Barat yang konyol namun temyata juga cerdas.Abu Nawas! Setelah mati pun masih bisa membuat orang tertawa. Di depanmakamnya ada pintu gerbang yang terkunci dengan gembok besar sekali.Namun di kanan kiri pintu gerbang itu pagarnya bolong sehingga orang bisaleluasa masuk untuk berziarah ke makamnya. Apa maksudnya dia berbuatdemikian. Mungkin itu adalah simbol watak Abu Nawas yang sepertinya tertutup3namun sebenarnya terbuka, ada sesuatu yang misteri pada diri Abu Nawas, iasepertinya bukan orang biasa, bahkan ada yang meyakini bahwa darikesederhanaannya ia adalah seorang guru sufi namun ia tetap dekat denganrakyat jelata bahkan konsis membela mereka yang lemah dan tertindas.Begitu banyak cerita lain yang diadopsi menjadi Kisah Abu Nawas sehinggakadang-kadang cerita tersebut nggak masuk akal bahkan terlalu menyakitkanorang timur, saya curiga jangan-jangan cerita-cerita Abu Nawas yang sangataneh itu sengaja diciptakan oleh kaum orientalis untuk menjelek-jelekkanmasyarakat Islam. Karena itu membaca cerita Abu Nawas kita harus kritis danwaspada.

Daftar Isi :
1. Pesan Bagi Para Hakim
2. Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi
3. Membalas Perbuatan Raja
4. Mengecoh Raja
5. Debat Kusir Tentang Ayam
6. Mengecoh Monyet Sirkus
7. Pekerjaan Yang Mustahil8. Botol Ajaib
9. Ibu Sejati
10.Hadiah Bagi Tebakan Jitu
11. Pintu Akhirat
12. Tetap Bisa Cari Solusi
13.Menipu Tuhan
14. Raja Dijadikan Budak
15.Abu Nawas Mati
16.Taruhan Yang Berbahaya
17.Ketenangan Hati
18. Manusia Bertelur
19. Peringatan Aneh
20.Asmara Memang Aneh
21. Cara Memilih Jalan
22. Strategi Maling
23.Menjebak Pencuri
24. Tipu dibalas Tipu
25. Tugas Yang Mustahil
26. Orang-orang Kanibal
27. Lolos Dari Maut

Pesan Bagi Para HakimSiapakah Abu Nawas? Tokoh yang dinggap badut namun juga dianggap ulamabesar ini— sufi, tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persiayang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwaz meninggal pada tahun 819 M diBaghdad. Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajarbahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir.Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaranorang Arab”, la juga pandai bersyair, berpantun dan menyanyi. la sempatpulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanyamenghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad.Mari kita mulai kisah penggeli hati ini. Bapaknya Abu Nawas adalah PenghuluKerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yangsudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk menguburjenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukanAbu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tatacaramemandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo’akannya, makaSultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulumenggantikan kedudukan bapaknya.Namun… demi mendengar rencana sang Sultan.Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadigila.Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotongbatang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batangpisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya.Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.6Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukupbanyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu iamengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, merekamenganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati olehbapaknya.Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datangmenemui Abu Nawas.”Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana.” kata wazirutusan Sultan.”Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya.”jawab AbuNawas dengan entengnya seperti tanpa beban.”Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu.””Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikandi sungai supaya bersih dan segar.” kata Abu Nawas sambil menyodorkansebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas.”Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?” kata wazir”Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau.” kata AbuNawas.”Apa maksudnya Abu Nawas?” tanya wazir dengan rasa penasaran.7″Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu.” sergah Abu Nawassembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkankeadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.Dengan geram Sultan berkata,”Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan AbuNawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa diakemari dengan suka rela ataupun terpaksa.”Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa AbuNawas di hadirkan di hadapan raja.Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnyaugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.”Abu Nawas bersikaplah sopan!” tegur Baginda.”Ya Baginda, tahukah Anda….?””Apa Abu Nawas…?””Baginda… terasi itu asalnya dari udang !””Kurang ajar kau menghinaku Nawas !””Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?”Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepadapara pengawalnya. “Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali”8Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukulitentara yang bertubuh kekar.Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbangkota, ia dicegat oleh penjaga.”Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telahmengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberihadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian,aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?””Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiahBaginda yang diberikan kepada tadi?””lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?””Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!””Wan ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kansudah sering menerima hadiah dari Baginda.”Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besarlalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.Tentu saja orang itumenjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitusaja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya.Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada SultanHarun Al Rasyid.9″Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemarimengadukan Abu Nawas yang teiah memukul hamba sebanyak dua puluh limakali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda.”Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. SetelahAbu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya.”Hai Abu Nawas! Benarkah kautelah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kalipukulan?”Berkata Abu Nawas,”Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudahsepatutnya dia menerima pukulan itu.””Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orangitu?” tanya Baginda.”Tuanku,”kata Abu Nawas.”Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telahmengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda makahadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya.Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka sayaberikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya.””Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjianseperti itu dengan Abu Nawas?” tanya Baginda.”Benar Tuanku,”jawab penunggu pintu gerbang.”Tapi hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan.””Hahahahaha IDasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!”sahutBaginda.”Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjagapintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memerasorang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akanmemecat dan menghukum kamu!”10″Ampun Tuanku,”sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar.Abu Nawas berkata,”Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tibadiwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohonganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilanTuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba.”Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba iatertawa terbahak-bahak, “Hahahaha…jangan kuatir Abu Nawas.”Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantonguang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira.Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkansemakin nyentrik seperti orang gila sungguhan.Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan paramenterinya.”Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagaikadi?”Wazir atau perdana meneteri berkata,”Melihat keadaan Abu Nawas yangsemakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain sajamenjadi kadi.”Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama.”Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi.””Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya barusaja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lainsaja.”11Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun AlRasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejaklama berambisi menjadi Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Bagindauntuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, maka tatkala ia mengajukandirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Bagindamenyetujuinya.Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkansyukur kepada Tuhan.”Alhamdulillah aku telah terlepas dari balak yang mengerikan.Tapi.,..sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yanglain saja.”Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini:Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia iapanggii Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapatibapaknya yang sudah lemah lunglai.Berkata bapaknya,”Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlahtelinga kanan dan telinga kiriku.”Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telingakanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbausangat busuk.”Bagamaina anakku? Sudah kau cium?””Benar Bapak!”

“Ceritakankan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku int.””Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbauharum sekali. Tapi… yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?””Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?””Wahai bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini.”Berkata Syeikh Maulana “Pada suatu hari datang dua orang mengadukanmasalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yangseorang lagi karena aku tak suaka maka tak kudengar pengaduannya. Inilahresiko menjadi Kadi (Penghulu). Jia kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akanmengalami hai yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi makabuatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh SultanHarun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetapmemilihmu sebagai Kadi.”Nan, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untukmenghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi ataupenghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatuperkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajakkonsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kalidipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan BagindaRaja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.oo000ooAbu Nawas Mendemo Tuan KadiPada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Ada duaorang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjualkahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.

Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan sipemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruhmurid-muridnya menutup kitab mereka.”Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku padamalam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil sertabatu.”Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada AbuNawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan danberddfa di pihak yang benar.Pada malam harimya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawaperalatan yang diminta oleh Abu Nawas.Berkata Abu Nawas,”Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusakTuan Kadi yang baru jadi.””Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?” gumam semua muridnya keheranan.”Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!” kata AbuNawas menghapus keraguan murid-muridnya. Barangsiapa yang mencegahmu,jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapayang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barangsiapa yanghendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan iemparilah dengan batu.”Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah Tuan Kadi.Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi.Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka. Lebih-lebihketikatanpa basa-basi lagi mereka iangsung merusak rumah Tua Kadi. Orang-orangkampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah14murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak beranimencegah.Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar danbertanya,”Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?”Murid-murid itu menjawab,”Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami!”Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkanrumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak orang yang berani membelanya”Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannyakepada Baginda.”Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga AbuNawas dipanggil menghadap Baginda.Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya. “Hai Abu Nawas apasebabnya kau merusak rumah Kadi itu”Abu Nawas menjawab,”Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada sliatu malamhamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya.Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih baguslagi.Ya, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi.”Baginda berkata,” Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuahperintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?”Dengan tenang Abu Nawas menjawab,”Hamba juga memakai hukum Tuan Kadiyang baru ini Tuanku.”15Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. laterdiam seribu bahasa.”Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?” tanya Baginda.Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetarankarena takut.”Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa sepertiini !” perintah Baginda.”Baiklah …… “Abu Nawas tetap tenang. “Baginda…. beberapa hari yang laluada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagangsambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpikawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. Inihanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsungmendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemudaMesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di sinilahterlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milikpemuda Mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan danakhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa.”Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percayaseratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemudaMesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu didepan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu kehadapan Baginda.Berkata Baginda Raja,”Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu sejakengkau datang ke negeri ini.”16Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkanpemuda itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik tempat kost diamenginap.”Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejadmoralnya.”Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanyadirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir.Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawaspulang ke rumahnya. Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.Berkata Abu Nawas,”Janganlah engkau memberiku barang sesuatupunkepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua.”Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali kenegeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepadapenduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.oo000ooMembalas Perbuatan RajaAbu Nawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagibeberapa pekerja kerajaan atas titan langsung Baginda Raja membongkarrumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah. Kata mereka tadi malam Bagindabermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan permatayang tak ternilai harganya. Tetapi setelah mereka terus menggali ternyataemas dan permata itu tidak ditemukan. Dan Baginda juga tidak meminta maafkepada Abu Nawas. Apabila mengganti kerugian. inilah yang membuat AbuNawas memendam dendam.17Lama Abu Nawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan muslihatuntuk membalas Baginda. Makanan yang dihidangkan oleh istrinya tidakdimakan karena nafsu makannya lenyap. Malam pun tiba, namun Abu Nawastetap tidak beranjak. Keesokan hari Abu Nawas melihat lalat-lalat mulaimenyerbu makanan Abu Nawas yang sudah basi. la tiba-tiba tertawa riang.”Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi.” AbuNawas berkata kepada istrinya.”Untuk apa?” tanya istrinya heran.”Membalas Baginda Raja.” kata Abu Nawas singkat. Dengan muka berseri-seriAbu Nawas berangkat menuju istana. Setiba di istana Abu Nawas membungkukhormat dan berkata,”Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukanperlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hambatanpa ijin dari hamba dan berani memakan makanan hamba.””Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas?” sergapBaginda kasar.”Lalat-lalat ini, Tuanku.” kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya.”Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba mengadukanperlakuan yang tidak adil ini.””Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?””Hamba hanya menginginkan ijin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisadengan leluasa menghukum lalat-lalat itu.” Baginda Raja tidak bisamengelakkan diri menotak permintaan Abu Nawas karena pada saat itu paramenteri sedang berkumpul di istana. Maka dengan terpaksa Baginda membuatsurat ijin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu dimanapun mereka hinggap.18Tanpa menunggu perintah Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnyahingga mereka terbang dan hinggap di sana sini. Dengan tongkat besi yangsudah sejak tadi dibawanya dari rumah, Abu Nawas mulai mengejar danmemukuli lalat-lalat itu. Ada yang hinggap di kaca.Abu Nawas dengan leluasa memukul kaca itu hingga hancur, kemudian vasbunga yang indah, kemudian giliran patung hias sehingga sebagian dari istanadan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas. Bahkan Abu Nawastidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan BagindaRaja.Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruan yangtelah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluarganya. Dan setelah merasapuas, Abu Nawas mohon diri. Barang-barang kesayangan Baginda banyak yanghancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu. Kini iasadar betapa kelirunya berbuat semena-mena kepada Abu Nawas. Abu Nawasyang nampak lucu dan sering menyenangkan orang itu ternyata bisa berubahmenjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam terhadap orangyang mengusiknya.Abu Nawas pulang dengan perasaan lega. Istrinya pasti sedang menunggu dirumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.oo000ooMengecoh RajaSejak peristiwa penghancuran barang-barang di istana oleh Abu Nawas yangdilegalisir oleh Baginda, sejak saat itu pula Baginda ingin menangkap AbuNawas untuk dijebloskan ke penjara.Sudah menjadi hukum bagi siapa saja yang tidak sanggup melaksanakan titahBaginda, maka tak disangsikan lagi ia akan mendapat hukuman. Baginda tahu19Abu Nawas amat takut kepada beruang. Suatu hari Baginda memerintahkanprajuritnya menjemput Abu Nawas agar bergabung dengan rombongan BagindaRaja Harun Al Rasyid berburu beruang. Abu Nawas merasa takut dan gemetartetapi ia tidak berani menolak perintah Baginda.Dalam perjalanan menuju ke hutan, tiba-tiba cuaca yang cerah berubahmenjadi mendung. Baginda memanggil Abu Nawas. Dengan penuh rasa hormatAbu Nawas mendekati Baginda.”Tahukah mengapa engkau aku panggil?” tanya Baginda tanpa sedikit punsenyum di wajahnya.”Ampun Tuanku, hamba belum tahu.” kata Abu Nawas.”Kau pasti tahu bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Hutan masih jauh darisini. Kau kuberi kuda yang lamban. Sedangkan aku dan pengawal-pengawalkuakan menunggang kuda yang cepat. Nanti pada waktu santap siang kitaberkumpul di tempat peristirahatanku. Bila hujan turun kita harusmenghindarinya dengan cara kita masing-masing agar pakaian kita tetap kering.Sekarang kita berpencar.” Baginda menjelaskan.Kemudian Baginda dan rombongan mulai bergerak. Abu Nawas kini tahuBaginda akan menjebaknya. la harus mancari akal. Dan ketika Abu Nawassedang berpikir, tiba-tiba hujan turun.Begitu hujan turun Baginda dan rombongan segera memacu kuda untukmencapai tempat perlindungan yang terdekat. Tetapi karena derasnya hujan,Baginda dan para pengawalnya basah kuyup. Ketika santap siang tiba Bagindasegera menuju tempat peristirahatan. Belum sempat baju Baginda dan parapengawalnya kering, Abu Nawas datang dengan menunggang kuda yang lamban.Baginda dan para pengawal terperangah karena baju Abu Nawas tidak basah.Padahal dengan kuda yang paling cepat pun tidak bisa mencapai tempatberlindung yang paling dekat.20Pada hari kedua Abu Nawas diberi kuda yang cepat yang kemarin ditunggangiBaginda Raja. Kini Baginda dan para pengawal-pengawalnya mengendarai kudakudayang lamban. Setelah Abu Nawas dan rombongan kerajaan berpencar,hujan pun turun seperti kemarin. Malah hujan hari ini lebih deras daripadakemarin. Baginda dan pengawalnya langsung basah kuyup karena kuda yangditunggangi tidak bisa berlari dengan kencang.Ketika saat bersantap siang tiba, Abu Nawas tiba di tempat peristirahatan lebihdahulu dari Baginda dan pengawalnya. Abu Nawas menunggu Baginda Raja.Selang beberapa saat Baginda dan para pengawalnya tiba dengan pakaian yangbasah kuyup. Melihat Abu Nawas dengan pakaian yang tetap kering Baginda jadipenasaran. Beliau tidak sanggup lagi menahan keingintahuan yang selama inidisembunyikan.”Terus terang begaimana caranya menghindari hujan, wahai Abu Nawas.” tanyaBaginda.”Mudah Tuanku yang mulia.” kata Abu Nawas sambil tersenyum.”Sedangkan aku dengan kuda yang cepat tidak sanggup mencapai tempatberteduh terdekat, apalagi dengan kuda yang lamban ini.” kata Baginda.”Hamba sebenarnya tidak melarikan diri dari hujan.Tetapi begitu hujan turunhamba secepat mungkin melepas pakaian hamba dan segera melipatnya, lalumendudukinya. Ini hamba lakukan sampai hujan berhenti.” Diam-diam BagindaRaja mengakui kecerdikan Abu Nawas.oo000ooDebat Kusir Tentang Ayam21Melihat ayam betinanya bertelur, Baginda tersenyum. Beliau memanggilpengawal agar mengumumkan kepada rakyat bahwa kerajaan mengadakansayembara untuk umum. Sayembara itu berupa pertanyaan yang mudah tetapimemerlukan jawaban yang tepat dan masuk akal. Barangsiapa yang bisamenjawab pertanyaan itu akan mendapat imbalan yang amat menggiurkan.Satu pundi penuh uang emas. Tetapi bila tidak bisa menjawab maka hukumanyang menjadi akibatnya.Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu terutama orang-orangmiskin. Beberapa dari mereka sampai meneteskan air liur. Mengingat beratnyahukuman yang akan dijatuhkan maka tak mengherankan bila pesertanya hanyaempat orang. Dan salah satu dari para peserta yang amat sedikit itu adalah AbuNawas.Aturan main sayembara itu ada dua. Pertama, jawaban harus masuk akal.Kedua, peserta harus mampu menjawab sanggahan dari Baginda sendiri.Pada hari yang telah ditetapkan para peserta sudah siap di depan panggung.Baginda duduk di atas panggung. Beliau memanggil peserta pertama. Pesertapertama maju dengan tubuh gemetar. Baginda bertanya,”Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?” “Telur.” jawab peserta pertama.”Apa alasannya?” tanya Baginda.”Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur.” katapeserta pertama menjelaskan.”Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu?” sanggah Baginda. .Peserta pertama pucat pasi. Wajahnya mendadak berubah putih seperti kertas.la tidak bisa menjawab. Tanpa ampun ia dimasukkan ke dalam penjara.22Kemudian peserta kedua maju. la berkata,”Paduka yang mulia, sebenarnya telur dan ayam tercipta dalam waktu yangbersamaan.””Bagaimana bisa bersamaan?” tanya Baginda.”Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Bilateiur lebih dahulu itu juga tidak mungkin karena telur tidak bisa menetas tanpadierami.” kata peserta kedua dengan mantap.”Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?” sanggah Bagindamemojokkan. Peserta kedua bjngung. la pun dijebloskan ke dalam penjara.Lalu giliran peserta ketiga. la berkata;”Tuanku yang mulia, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu daripada telur.””Sebutkan alasanmu.” kata Baginda.”Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina.” kata pesertaketiga meyakinkan.”Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang. Sedangkanayam jantan tidak ada.” kata Baginda memancing.”Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. Lalumenetas dan menurunkan anak ayam jantan. Kemudian menjadi ayam jantandewasa dan mengawini induknya sendiri.” peserta ketiga berusahamenjelaskan.23″Bagaimana bila ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasasempat mengawininya?”Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda. la pun dimasukkanke penjara.Kini tiba giliran Abu Nawas. la berkata, “Yang pasti adalah telur dulu, baruayam.””Coba terangkan secara logis.” kata Baginda ingin tahu “Ayam bisa mengenaltelur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam.” kata Abu Nawas singkat.Agak lama Baginda Raja merenung. Kali ini Baginda tidak nyanggah alasan AbuNawas.oo000ooMengecoh MonyetAbu Nawas sedang berjalan-jalan santai. Ada kerumunan masa. Abu Nawasbertanya kepada seorang kawan yang kebetulan berjumpa di tengah jalan.”Ada kerumunan apa di sana?” tanya Abu Nawas.”Pertunjukkan keliling yang melibatkan monyet ajaib.””Apa maksudmu dengan monyet ajaib?” kata Abu Nawas ingin tahu.”Monyet yang bisa mengerti bahasa manusia, dan yang lebih menakjubkanadalah monyet itu hanya mau tunduk kepada pemiliknya saja.” kata kawan AbuNawas menambahkan.Abu Nawas makin tertarik. la tidak tahan untuk menyaksikan kecerdikan dankeajaiban binatang raksasa itu.24Kini Abu Nawas sudah berada di tengah kerumunan para penonton. Karenabegitu banyak penonton yang menyaksikan pertunjukkan itu, sang pemilikmonyet dengan bangga menawarkan hadiah yang cukup besar bagi siapa sajayang sanggup membuat monyet itu mengangguk-angguk.Tidak heran bila banyak diantara para penonton mencoba maju satu persatu.Mereka berupaya dengan beragam cara untuk membuat monyet itumengangguk-angguk, tetapi sia-sia. Monyet itu tetap menggeleng-gelengkankepala.Melihat kegigihan monyet itu Abu Nawas semakin penasaran. Hingga ia majuuntuk mencoba. Setelah berhadapan dengan binatang itu Abu Nawas bertanya,”Tahukah engkau siapa aku?” Monyet itu menggeleng.”Apakah engkau tidak takut kepadaku?” tanya Abu Nawas lagi. Namun monyetitu tetap menggeleng.”Apakah engkau takut kepada tuanmu?” tanya Abu Nawas memancing. Monyetitu mulai ragu.”Bila engkau tetap diam maka akan aku laporkan kepada tuanmu.” lanjut AbuNawas mulai mengancam. Akhirnya monyet itu terpaksa mengangguk-angguk.Atas keberhasilan Abu Nawas membuat monyet itu mengangguk-angguk maka iamendapat hadiah berupa uang yang banyak. Bukan main marah pemilik monyetitu hingga ia memukuli binatang yang malang itu. Pemilik monyet itu malubukan kepalang. Hari berikutnya ia ingin menebus kekalahannya. Kali ini iamelatih monyetnya mengangguk-angguk.Bahkan ia mengancam akan menghukum berat monyetnya bila sampai bisadipancing penonton mengangguk-angguk terutama oleh Abu Nawas. Tak peduliapapun pertanyaan yang diajukan.25Saat-saat yang dinantikan tiba. Kini para penonton yang ingin mencoba, harussanggup membuat monyet itu menggeleng-gelengkan kepala. Maka seperti harisebelumnya, banyak para penonton tidak sanggup memaksa monyet itumenggeleng-gelengkan kepala. Setelah tidak ada lagi yang ingin mencobanya,Abu Nawas maju. la mengulang pertanyaan yang sama.”Tahukah engkau siapa daku?” Monyet itu mengangguk.”Apakah engkau tidak takut kepadaku?” Monyet itu tetap mengangguk.”Apakah engkau tidak takut kepada tuanmu?” pancing Abu Nawas. Monyet itutetap mengangguk karena binatang itu lebih takut terhadap ancaman tuannyadaripada Abu Nawas.Akhirnya Abu Nawas mengeluarkan bungkusan kecil berisi balsam panas.”Tahukah engkau apa guna balsam ini?” Monyet itu tetap mengangguk .”Baiklah, bolehkah kugosokselangkangmu dengan balsam?” Monyet itumengangguk.Lalu Abu Nawas menggosok selangkang binatang itu. Tentu saja monyet itumerasa agak kepanasan dan mulai-panik.Kemudian Abu Nawas mengeluarkan bungkusan yang cukup besar. Bungkusanitu juga berisi balsam.”Maukah engkau bila balsam ini kuhabiskan untuk menggosok selangkangmu?”Abu Nawas mulai mengancam. Monyet itu mulai ketakutan. Dan rupanya ia lupaancaman tuannya sehingga ia terpaksa menggeleng-gelengkan kepala sambilmundur beberapa langkah.26Abu Nawas dengan kecerdikan dan akalnya yang licin mampu memenangkansayembara meruntuhkan kegigihan monyet yang dianggap cerdik.Ah, jangankan seekor monyet, manusia paling pandai saja bisa dikecoh AbuNawas!oo000ooPekerjaan Yang MustahilBaginda baru saja membaca kitab tentang kehebatan Raja Sulaiman yangmampu memerintahkan, para jin memindahkan singgasana Ratu Bilqis di dekatistananya. Baginda tiba-tiba merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik untukmelakukan hal yang sama. Mendadak beliau ingin istananya dipindahkan ke atasgunung agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di sekitar. Danbukankah hal itu tidak mustahil bisa dilakukan karena ada Abu Nawas yangamat cerdik di negerinya.Abu Nawas segera dipanggil untuk menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid.Setelah Abu Nawas dihadapkan, Baginda bersabda,”Sanggupkah engkau memindahkan istanaku ke atas gunung agar aku lebihleluasa melihat negeriku?” tanya Baginda.27Abu Nawas tidak langsung menjawab. la berpikir sejenak hingga keningnyaberkerut. Tidak mungkin menolak perintah Baginda kecuali kalau memang ingindihukum.Akhirnya Abu Nawas terpaksa menyanggupi proyek raksasa itu. Ada satu lagipermintaan dari Baginda, pekerjaan itu harus selesai hanya dalam waktusebulan.Abu Nawas pulang dengan hati masgul. Setiap malam ia hanya bertemandengan rembulan dan bintang-bintang. Hari-hari dilewati dengan kegundahan.Tak ada hari yang lebih berat dalam hidup Abu Nawas kecuali hari-hariini.Tetapi pada hari kesembilan ia tidak lagi merasa gundah gulana.Keesokan harinya Abu Nawas menuju istana. la menghadap Baginda untukmembahas pemindahan istana. Dengan senang hati Baginda akanmendengarkan, apa yang diinginkan Abu Nawas.”Ampun Tuariku, hamba datang ke sini hanya untuk mengajukan usul untukmemperlancar pekerjaan hamba nanti.” kata Abu Nawas.”Apa usul itu?”28″Hamba akan memindahkan istana Paduka yang mulia tepat pada Hari Raya IdulQurban yang kebetulan hanya kurang dua puluh hari lagi.””Kalau hanya usulmu, baiklah.” kata Baginda.”Satu lagi Baginda….. ” Abu Nawas menambahkan.”Apa lagi?” tanya Baginda.”Hamba mohon Baginda menyembelih sepuluh ekor sapi yang gemuk untukdibagikan langsung kepada para fakir miskin.” kata Abu Nawas.”Usulmu kuterima.” kata Baginda menyetujui.Abu Nawas pulang denganperasaan riang gembira. Kini tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Toh nantibila waktunya sudah tiba, ia pasti akan dengan mudah memindahkan istanaBaginda Raja. Jangankan hanya memindahkan ke puncak gunung, ke dasarsamudera pun Abu Nawas sanggup.Desas-desus mulai tersebar ke seluruh pelosok negeri. Hampir semua orangharap-harap cemas. Tetapi sebagian besar rakyat merasa yakin ataskemampuan Abu Nawas. Karena selama ini Abu Nawas belum pernah gagal29melaksanakan tugas-tugas aneh yang dibebankan di atas pundaknya. Namunada beberapa orang yang meragukan keberhasilan Abu Nawas kali ini.Saat-saat yang dinanti-nantikan tiba. Rakyat berbondong-bondong menujulapangan untuk melakukan salat Hari Raya Idul Qurban. Dan seusai salat,sepuluh sapi sumbangan Baginda Raja disembelih lalu dimasak kemudian segeradibagikan kepada fakir miskin.Kini giliran Abu Nawas yang harus melaksanakan tugas berat itu. Abu Nawasberjalan menuju istana diikuti oleh rakyat. Sesampai di depan istana AbuNawas bertanya kepada Baginda Raja,”Ampun Tuanku yang mulia, apakah istana sudah tidak ada orangnya lagi?””Tidak ada.” jawab Baginda Raja singkat.Kemudian Abu Nawas berjalan beberapa langkah mendekati istana. la berdirisambil memandangi istana. Abu Nawas berdiri mematung seolah-olah ada yangditunggu. Benar. Baginda Raja akhirnya tidak sabar.”Abu Nawas, mengapa engkau belum juga mengangkat istanaku?” tanya BagindaRaja.30″Hamba sudah siap sejak tadi Baginda.” kata Abu Nawas.”Apa maksudmu engkau sudah siap sejak tadi? Kalau engkau sudah siap. Laluapa yang engkau tunggu?” tanya Baginda masih diliputi perasaan heran.”Hamba menunggu istana Paduka yang mulia diangkat oleh seluruh rakyat yanghadir untuk diletakkan di atas pundak hamba. Setelah itu hamba tentu akanmemindahkan istana Paduka yang mulia ke atas gunung sesuai dengan titahPaduka.”Baginda Raja Harun Al Rasyid terpana. Beliau tidak menyangka Abu Nawasmasih bisa keluar dari lubang jarum.oo000ooBotol AjaibTidak ada henti-hentinya. Tidak ada kapok-kapoknya, Baginda selalumemanggil Abu Nawas untuk dijebak dengan berbagai pertanyaan atau tugasyang aneh-aneh. Hari ini Abu Nawas juga dipanggil ke istana.31Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu Nawas dengan sebuahsenyuman.”Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, akukena serangan angin.” kata Baginda Raja memulai pembicaraan.”Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil.” tanyaAbu Nawas.”Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya.”kata Baginda.Abu Nawas hanya diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. la tidakmemikirkan bagaimana cara menangkap angin nanti tetapi ia masih bingungbagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar-benarangin.Karena angin tidak bisa dilihat. Tidak ada benda yang lebih aneh dari angin.Tidak seperti halnya air walaupun tidak berwarna tetapi masih bisa dilihat.Sedangkan angin tidak.32Baginda hanya memberi Abu Nawas waktu tidak lebih dari tiga hari. Abu Nawaspulang membawa pekerjaan rumah dari Baginda Raja. Namun Abu Nawas tidakbegitu sedih. Karena berpikir sudah merupakan bagian dari hidupnya, bahkanmerupakan suatu kebutuhan. la yakin bahwa dengan berpikir akan terbentangjalan keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi. Dan dengan berpikir pula iayakin bisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkanterutama orang-orang miskin. Karena tidak jarang Abu Nawas menggondolsepundi penuh uang emas hadiah dari Baginda Raja atas kecerdikannya.Tetapi sudah dua hari ini Abu Nawas belum juga mendapat akal untukmenangkap angin apalagi memenjarakannya. Sedangkan besok adalah hariterakhir yang telah ditetapkan Baginda Raja. Abu Nawas hampir putus asa. AbuNawas benar-benar tidak bisa tidur walau hanya sekejap.Mungkin sudah takdir; kayaknya kali ini Abu Nawas harus menjalani hukumankarena gagal melaksanakan perintah Baginda. la berjalan gontai menuju istana.Di sela-sela kepasrahannya kepada takdir ia ingat sesuatu, yaitu Aladin danlampu wasiatnya.”Bukankah jin itu tidak terlihat?” Abu Nawas bertanya kepada diri sendiri. laberjingkrak girang dan segera berlari pulang. Sesampai di rumah ia secepatmungkin menyiapkan segala sesuatunya kemudian menuju istana. Di pintugerbang istana Abu Nawas langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawalkarena Baginda sedang menunggu kehadirannya.Dengan tidak sabar Baginda langsung bertanya kepada Abu Nawas.33″Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin, hai Abu Nawas?””Sudah Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas dengan muka berseri-seri sambilmengeluarkan botol yang sudah disumbat. Kemudian Abu Nawas menyerahkanbotol itu.Baginda menimang-nimang botol itu.”Mana angin itu, hai Abu Nawas?” tanya Baginda.”Di dalam, Tuanku yang mulia.” jawab Abu Nawas penuh takzim.”Aku tak melihat apa-apa.” kata Baginda Raja.”Ampun Tuanku, memang angin tak bisa dilihat, tetapi bila Paduka ingin tahuangin, tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu.” kata Abu Nawasmenjelaskan. Setelah tutup botol dibuka Baginda mencium bau busuk. Baukentut yang begitu menyengat hidung.34″Bau apa ini, hai Abu Nawas?!” tanya Baginda marah. “Ampun Tuanku yangmulia, tadi hamba buang angin dan hamba masukkan ke dalam botol. Karenahamba takut angin yang hamba buang itu keluar maka hambamemenjarakannya dengan cara menyumbat mulut botol.” kata Abu Nawasketakutan.Tetapi Baginda tidak jadi marah karena penjelasan Abu Nawas memang masukakal. Dan untuk kesekian kali Abu Nawas selamat.oo000ooIbu SejatiKisah ini mirip dengan kejadian pada masa Nabi Sulaiman ketika masih muda.Entah sudah berapa hari kasus seorang bayi yang diakui oleh dua orang ibu yangsama-sama ingin memiliki anak. Hakim rupanya mengalami kesulitanmemutuskan dan menentukan perempuan yang mana sebenarnya yang menjadiibu bayi itu.Karena kasus berlarut-larut, maka terpaksa hakim menghadap Baginda Rajauntuk minta bantuan. Baginda pun turun tangan. Baginda memakai taktikrayuan. Baginda berpendapat mungkin dengan cara-cara yang amat halus salahsatu, wanita itu ada yang mau mengalah. Tetapi kebijaksanaan Baginda Raja35Harun Al Rasyid justru membuat kedua perempuan makin mati-matian salingmengaku bahwa bayi itu adalah anaknya. Baginda berputus asa.Mengingat tak ada cara-cara lain lagi yang bisa diterapkan Baginda memanggilAbu Nawas. Abu Nawas hadir menggantikan hakim. Abu Nawas tidak maumenjatuhkan putusan pada hari itu melainkan menunda sampai hari berikutnya.Semua yang hadir yakin Abu Nawas pasti sedang mencari akal seperti yangbiasa dilakukan. Padahal penundaan itu hanya disebabkan algojo tidak ada ditempat.Keesokan hari sidang pengadilan diteruskan lagi. Abu Nawas memanggrl algojodengan pedang di tangan. Abu Nawas memerintahkan agar bayi itu diletakkandi atas meja.”Apa yang akan kau perbuat terhadap bayi itu?” kata kedua perempuan itusaling memandang. Kemudian Abu Nawas melanjutkan dialog.”Sebelum saya mengambil tindakan apakah salah satu dari kalian bersediamengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya?””Tidak, bayi itu adalah anakku.” kata kedua perempuan itu serentak.36″Baiklah, kalau kalian memang sungguh-sungguh sama menginginkan bayi itudan tidak ada yang mau mengalah maka saya terpaksa membelah bayi itumenjadi dua sama rata.” kata Abu Nawas mengancam.Perempuan pertama girang bukan kepalang, sedangkan perempuan keduamenjerit-jerit histeris.”Jangan, tolongjangan dibelah bayi itu. Biarlah aku rela bayi itu seutuhnyadiserahkan kepada perempuan itu.” kata perempuan kedua. Abu Nawastersenyum lega. Sekarang topeng mereka sudah terbuka. Abu Nawas segeramengambil bayi itu dan langsurig menyerahkan kepada perempuan kedua.Abu Nawas minta agar perempuan pertama dihukum sesuai denganperbuatannya. Karena tak ada ibu yang tega menyaksikan anaknya disembelih.Apalagi di depan mata. Baginda Raja merasa puas terhadap keputusan AbuNawas. Dan .sebagai rasa terima kasih, Baginda menawari Abu Nawas menjadipenasehat hakim kerajaan. Tetapi Abu Nawas menolak. la lebih senang menjadirakyat biasa.oo000ooHadiah Bagi Tebakan JituBaginda Raja Harun Al Rasyid kelihatan murung. Semua menterinya tidak adayang sanggup menemukan jawaban dari dua pertanyaan Baginda. Bahkan para37penasihat kerajaan pun merasa tidak mampu memberi penjelasan yangmemuaskan Baginda. Padahal Baginda sendiri ingin mengetahui jawaban yangsebenarnya.Mungkin karena amat penasaran, para penasihat Baginda menyarankan agarAbu Nawas saja yang memecahkan dua teka-teki yang membingungkan itu.Tidak begitu lama Abu Nawas dihadapkan. Baginda mengatakan bahwa akhirakhirini ia sulit tidur karena diganggu oleh keingintahuan menyingkap duarahasia alam.”Tuanku yang mulia, sebenarnya rahasia alam yang manakah yang Padukamaksudkan?” tanya Abu Nawas ingin tahu.”Aku memanggilmu untuk menemukan jawaban dari dua teka-teki yang selamaini menggoda pikiranku.” kata Baginda.”Bolehkah hamba mengetahui kedua teka-teki itu wahai Paduka junjunganhamba.””Yang pertama, di manakah sebenarnya batas jagat raya ciptaan Tuhan kita?”tanya Baginda.38″Di dalam pikiran, wahai Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas tanpa sedikitpun perasaan ragu, “Tuanku yang mulia,” lanjut Abu Nawas ‘ketidakterbatasanitu ada karena adanya keterbatasan. Dan keterbatasan itu ditanamkan olehTuhan di dalam otak manusia. Dari itu manusia tidak akan pernah tahu di manabatas jagat raya ini. Sesuatu yang terbatas tentu tak akan mampu mengukursesuatu yang tidak terbatas.”Baginda mulai tersenyum karena merasa puas mendengar penjelasan AbuNawas yang masuk akal. Kemudian Baginda melanjutkan teka-teki yang kedua.”Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih banyak jumlahnya : bintang-bintang dilangit ataukah ikan-ikan di laut?””Ikan-ikan di laut.” jawab Abu Nawas dengan tangkas.”Bagaimana kau bisa langsung memutuskan begitu. Apakah engkau pernahmenghitung jumlah mereka?” tanya Baginda heran.”Paduka yang mulia, bukankah kita semua tahu bahwa ikan-ikan itu setiap hariditangkapi dalam jumlah besar, namun begitu jumlah mereka tetap banyakseolah-olah tidak pernah berkurang karena saking banyaknya. Sementarabintang-bintang itu tidak pernah rontok, jumlah mereka juga banyak.” jawabAbu Nawas meyakinkan.39Seketika itu rasa penasaran yang selama ini menghantui Baginda sirna takberbekas. Baginda Raja Harun Al Rasyid memberi hadiah Abu Nawas danistrinya uang yang cukup banyak.Tidak seperti biasa, hari itu Baginda tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyatbiasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuansiapa pun agar lebih leluasa bergerak.Baginda mulai keluar istana dengan pakaian yang amat sederhana layaknyaseperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan beliau melihat beberapa orangberkumpul. Setelah Baginda mendekat, ternyata seorang ulama sedangmenyampaikan kuliah tentang alam barzah. Tiba-tiba ada seorang yang datangdan bergabung di situ, la bertanya kepada ulama itu.”Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya,tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihatpenyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang dialaminya. Maka bagaimana caramembenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dilihat mata?” Ulama ituberpikir sejenak kemudian ia berkata,”Untuk mengetahui yang demikian itu harus dengan panca indra yang lain.Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tidur? Dia kadangkala bermimpidalam tidurnya digigit ular, diganggu dan sebagainya. la juga merasa sakit dantakut ketika itu bahkan memekik dan keringat bercucuran pada keningnya. lamerasakan hal semacam itu seperti ketika tidak tidur. Sedangkan engkau yangduduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tidak ada apa-apa.Padahal apa yang dilihat serta dialaminya adalah dikelilirigi ular-ular. Maka jika40masalah mimpi yang remeh saja sudah tidak mampu mata lahir melihatnya,mungkinkah engkau bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?”Baginda Raja terkesan dengan penjelasan ulama itu. Baginda masih ikutmendengarkan kuliah itu. Kini ulama itu melanjutkan kuliahnya tentang alamakhirat. Dikatakan bahwa di surga tersedia hal-hal yang amat disukai nafsu,termasuk benda-benda. Salah satu benda-benda itu adalah mahkota yang amatluar biasa indahnya. Tak ada yang lebih indah dari barang-barang di surgakarena barang-barang itu tercipta dari cahaya. Saking ihdahnya maka satumahkota jauh lebih bagus dari dunia dan isinya. Baginda makin terkesan. Beliaupulang kembali ke istana.Baginda sudah tidak sabar ingin menguji kemampuan Abu Nawas. Abu Nawasdipanggil: Setelah menghadap Bagiri”Aku menginginkan engkau sekarang juga berangkat ke surga kemudianbawakan aku sebuah mahkota surga yang katanya tercipta dari cahaya itu.Apakah engkau sanggup Abu Nawas?””Sanggup Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas langsung menyanggupi tugasyang mustahil dilaksanakan itu. “Tetapi Baginda harus menyanggupi pula satusarat yang akan hamba ajukan.””Sebutkan sarat itu.” kata Baginda Raja.41″Hamba mohon Baginda menyediakan pintunya agar hamba bisa memasukinya.””Pintu apa?” tanya Baginda belum mengerti. Pintu alam akhirat.” jawab AbuNawas.”Apa itu?” tanya Baginda ingin tahu.”Kiamat, wahai Padukayang mulia. Masing-masing alam mempunyai pintu. Pintualam dunia adalah liang peranakan ibu. Pintu alam barzah adalah kematian.Dan pintu alam akhirat adalah kiamat. Surga berada di alam akhirat. BilaBaginda masih tetap menghendaki hamba mengambilkan sebuah mahkota disurga, maka dunia harus kiamat teriebih dahulu.”Mendengar penjetasan Abu Nawas Baginda Raja terdiam.Di sela-sela kebingungan Baginda Raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas bertanyalagi,42″Masihkah Baginda menginginkan mahkota dari surga?” Baginda Raja tidakmenjawab. Beliau diam seribu bahasa, Sejenak kemudian Abu Nawas mohondiri karena Abu Nawas sudah tahu jawabnya.oo000ooPintu AkhiratTidak seperti biasa, hari itu Baginda tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyatbiasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuansiapa pun agar lebih leluasa bergerak.Baginda mulai keluar istana dengan pakaian yang amat sederhana layaknyaseperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan beliau melihat beberapa orangberkumpul. Setelah Baginda mendekat, ternyata seorang ulama sedangmenyampaikan kuliah tentang alam barzah. Tiba-tiba ada seorang yang datangdan bergabung di situ, la bertanya kepada ulama itu.”Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya,tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihatpenyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang dialaminya. Maka bagaimana caramembenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dilihat mata?” Ulama ituberpikir sejenak kemudian ia berkata,43″Untuk mengetahui yang demikian itu harus dengan panca indra yang lain.Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tidur? Dia kadangkala bermimpidalam tidurnya digigit ular, diganggu dan sebagainya. la juga merasa sakit dantakut ketika itu bahkan memekik dan keringat bercucuran pada keningnya. lamerasakan hal semacam itu seperti ketika tidak tidur. Sedangkan engkau yangduduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tidak ada apa-apa.Padahal apa yang dilihat serta dialaminya adalah dikelilirigi ular-ular. Maka jikamasalah mimpi yang remeh saja sudah tidak mampu mata lahir melihatnya,mungkinkah engkau bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?”Baginda Raja terkesan dengan penjelasan ulama itu. Baginda masih ikutmendengarkan kuliah itu. Kini ulama itu melanjutkan kuliahnya tentang alamakhirat. Dikatakan bahwa di surga tersedia hal-hal yang amat disukai nafsu,termasuk benda-benda. Salah satu benda-benda itu adalah mahkota yang amatluar biasa indahnya. Tak ada yang lebih indah dari barang-barang di surgakarena barang-barang itu tercipta dari cahaya. Saking ihdahnya maka satumahkota jauh lebih bagus dari dunia dan isinya. Baginda makin terkesan. Beliaupulang kembali ke istana.Baginda sudah tidak sabar ingin menguji kemampuan Abu Nawas. Abu Nawasdipanggil: Setelah menghadap Bagiri”Aku menginginkan engkau sekarang juga berangkat ke surga kemudianbawakan aku sebuah mahkota surga yang katanya tercipta dari cahaya itu.Apakah engkau sanggup Abu Nawas?””Sanggup Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas langsung menyanggupi tugasyang mustahil dilaksanakan itu. “Tetapi Baginda harus menyanggupi pula satusarat yang akan hamba ajukan.”44″Sebutkan syarat itu.” kata Baginda Raja.”Hamba morion Baginda menyediakan pintunya agar hamba bisa memasukinya.””Pintu apa?” tanya Baginda belum mengerti. Pintu alam akhirat.” jawab AbuNawas.”Apa itu?” tanya Baginda ingin tahu.”Kiamat, wahai Paduka yang mulia. Masing-masing alam mempunyai pintu.Pintu alam dunia adalah liang peranakan ibu. Pintu alam barzah adalahkematian. Dan pintu alam akhirat adalah kiamat. Surga berada di alam akhirat.Bila Baginda masih tetap menghendaki hamba mengambilkan sebuah mahkotadi surga, maka dunia harus kiamat teriebih dahulu.”Mendengar penjetasan Abu Nawas Baginda Raja terdiam.Di sela-sela kebingungan Baginda Raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas bertanyalagi,45″Masihkah Baginda menginginkan mahkota dari surga?” Baginda Raja tidakmenjawab. Beliau diam seribu bahasa, Sejenak kemudian Abu Nawas mohondiri karena Abu Nawas sudah tahu jawabnya.oo000ooTetap Bisa Cari SolusiMimpi buruk yang dialami Baginda Raja Harun Al Rasyid tadi malammenyebabkan Abu Nawas diusir dari negeri Baghdad. Abu Nawas tidak berdaya.Bagaimana pun ia harus segera menyingkir meninggalkan negeri Baghdad hanyakarena mimpi. Masih jelas terngiang-ngiang kata-kata Baginda Raja di telingaAbu Nawas.”Tadi malam aku bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki tua. lamengenakan jubah putih. la berkata bahwa negerinya akan ditimpa bencanabila orang yang bernama Abu Nawas masih tetap tinggal di negeri ini. la harusdiusir dari negeri ini sebab orang itu membawa kesialan. ia boleh kembali kenegerinya dengan sarat tidak boleh dengan berjalan kaki, berlari, merangkak,melompat-lompat dan menunggang keledai atau binatang tunggangan yanglain.”Dengan bekal yang diperkirakan cukup Abu Nawas mulai meninggalkan rumahdan istrinya. Istri Abu Nawas hanya bisa mengiringi kepergian suaminya denganderaian air mata.46Sudah dua hari penuh Abu Nawas mengendarai keledainya. Bekal yangdibawanya mulai menipis. Abu Nawas tidak terlalu meresapi pengusiran dirinyadengan kesedihan yang terlalu mendalam. Sebaliknya Abu Nawas merasabertambah yakin bahwa Tuhan Yang Maha Perkasa akan segera menotongkeluar dari kesulitan yang sedang melilit pikirannya. Bukankah tiada seorangteman pun yang lebih baik daripada Allah SWT dalam saat-saat seperti itu?Setelah beberapa hari Abu Nawas berada di negeri orang, ia mulai diserang rasarindu yang menyayat-nyayat hatinya yang paling dalam. Rasa rindu itu makinlama makin menderu-deru seperti dinginnya jamharir. Sulit untuk dibendung.Memang, tak ada jalan keluar yang lebih baik daripada berpikir. Tetapi denganakal apakah ia harus melepaskan diri? Begitu tanya Abu Nawas dalam hati.Apakah aku akan meminta bantuan orang lain dengan cara menggendongku darinegeri ini sampai ke istana Baginda? Tidak! Tidak akan ada seorang pun yangsanggup melakukannya. Aku harus bisa menolong diriku sendiri tanpamelibatkan orang lain.Pada hari kesembilanbelas Abu Nawas menemukan cara lain yang tidaktermasuk larangan Baginda Raja Harun Al Rasyid. Setelah segala sesuatunyadipersiapkan, Abu Nawas berangkat menuju ke negerinya sendiri. Perasaanrindu dan senang menggumpal menjadi satu. Kerinduan yang selama inimelecut-lecut semakin menggila karena Abu Nawas tahu sudah semakin dekatdengan kampung halaman.Mengetahui Abu Nawas bisa pulang kembali, penduduk negeri gembira. Desasdesustentang kembalinya Abu Nawas segara menyebar secepat bau semerbakbunga yang menyerbu hidung.47Kabar kepulangan Abu Nawas juga sampai ke telinga Baginda Harun Al Rasyid.Baginda juga merasa gembi mendengar berita itu tetapi dengan alasan yangsama sekali berbeda. Rakyat gembira melihat Abu Nawas pulang kembali,karena mereka mencintainya. Sedangkan Baginda Raja gembira mendengar AbuNawas pulang kembali karena beliau merasa yakin kali ini pasti Abu Nawastidak akan bisa mengelak dari hukuman.Namun Baginda amat kecewa dan merasa terpukul melihat cara Abu Nawaspulang ke negerinya. Baginda sama sekali tidak pernah membayangkan kalauAbu Nawas ternyata bergelayut di bawah perut keledai. Sehingga Abu Nawasterlepas dari sangsi hukuman yang akan dijatuhkan karena memang tidak bisadikatakan teiah melanggar larangan Baginda Raja. Karena Abu Nawas tidakmengendarai keledai.oo000ooMenipu TuhanAbu Nawas sebenarnya adalah seorang ulama yang alim. Tak begitumengherankan jika Abu Nawas mempunyai murid yang tidak sedikit.Diantara sekian banyak muridnya, ada satu orang yang hampir selalumenanyakan mengapa Abu Nawas mengatakan begini dan begitu. Suatu ketikaada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yangsama. Orang pertama mulai bertanya,48″Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atauorang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?””Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil.” jawab Abu Nawas.”Mengapa?” kata orang pertama.”Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan.” kata Abu Nawas.Orang pertama puas karena ia memang yakin begitu.Orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang lebihutama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakandosa-dosa kecil?””Orang yang tidak mengerjakan keduanya.” jawab Abu Nawas.”Mengapa?” kata orang kedua.49″Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunandari Tuhan.” kata Abu Nawas. Orang kedua langsung bisa mencerna jawabanAbu Nawas.Orang ketiga juga bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Manakah yang iebihutama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakandosa-dosa kecil?””Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar.” jawab Abu Nawas.”Mengapa?” kata orang ketiga.”Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosahamba itu.” jawab Abu Nawas. Orang ketiga menerima aiasan Abu Nawas.Kemudian ketiga orang itu pulang dengan perasaan puas.Karena belum mengerti seorang murid Abu Nawas bertanya.”Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yangberbeda?”50″Manusia dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatanhati.””Apakah tingkatan mata itu?” tanya murid Abu Nawas. “Anak kecil yang melihatbintang di langit. la mengatakan bintang itu kecil karena ia hanyamenggunakan mata.” jawab Abu Nawas mengandaikan.”Apakah tingkatan otak itu?” tanya murid Abu Nawas. “Orang pandai yangmelihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu besar karena iaberpengetahuan.” jawab Abu Nawas.”Lalu apakah tingkatan hati itu?” tanya murid Abu Nawas.”Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. la tetapmengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagiorang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkandengan KeMaha-Besaran Allah.”Kini murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisamenghasilkan jawaban yang berbeda. la bertanya lagi.51″Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?””Mungkin.” jawab Abu Nawas.”Bagaimana caranya?” tanya murid Abu Nawas ingin tahu.”Dengan merayuNya melalui pujian dan doa.” kata Abu Nawas”Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru.” pinta murid Abu Nawas”Doa itu adalah : llahi lastu HI firdausi ahla, wala aqwa’alan naril jahimi, fahablitaubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzanbil ‘adhimi.Sedangkan arti doa itu adalah : Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadipenghuni surga, tetapi aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka. Olehsebab itu terimalah tobatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnyaEngkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar.oo000oo52Raja Dijadikan BudakKadangkala untuk menunjukkansesuatu kepada sang Raja, Abu Nawas tidak bisahanya sekedar melaporkannya secara lisan. Raja harus mengetahuinya denganmata kepala sendiri, bahwa masih banyak di antara rakyatnya yang hidupsengsara. Ada saja praktek jual beli budak.Dengan tekad yang amat bulat Abu Nawas merencanakan menjuai BagindaRaja. Karena menurut Abu Nawas hanya Baginda Raja yang paling patut untukdijual. Bukankah selama ini Baginda Raja selalu miempermainkan dirinya danmenyengsarakan pikirannya? Maka sudah sepantasnyalah kalau sekarang giliranAbu Nawas mengerjai Baginda Raja.Abu Nawas menghadap dan berkata kepada Baginda Raja Harun Al Rasyid.”Ada sesuatu yang amat menarik yang akan hamba sampaikan hanya kepadaPaduka yang mulia.””Apa itu wahai Abu Nawas?” tanya Baginda langsung tertarik.53″Sesuatu yang hamba yakin belum pernah terlintas di dalam benak Paduka yangmulia.” kata Abu Nawas meyakinkan.”Kalau begitu cepatlah ajak aku ke sana untuk menyaksikannya.” kata BagindaRaja tanpa rasa curiga sedikit pun.”Tetapi Baginda … ” kata Abu Nawas sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.”Tetapi apa?” tanya Baginda tidak sabar.”Bila Baginda tidak menyamarsebagai rakyat biasa maka pasti nanti orang-orangakan banyak yang ikut menyaksikan benda ajaib itu.” kata Abu Nawas.Karena begitu besar keingintahuan Baginda Raja, maka beliau bersediamenyamar sebagai rakyat biasa seperti yang diusulkan Abu Nawas.Kemudian Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al Rasyid berangkat menuju kesebuah hutan.54Setibanya di hutan Abu Nawas mengajak Baginda Raja mendekati sebuah pohonyang rindang dan memohon Baginda Raja menunggu di situ. Sementara itu AbuNawas menemui seorang badui yang pekerjaannya menjuai budak. Abjj Nawasmengajak pedagang budak itu untuk mettrtat calon budak yang akan dijualkepadanya dari jarak yang agak jauh. Abu Nawas beralasan bahwa sebenarnyacalon budak itu adalah teman dekatnya. Dari itu Abu Nawas tidak tegamenjualnya di depan mata. Setelah pedagang budak itu memperhatikan darikejauhan ia merasa cocok. Abu Nawas pun membuatkan surat kuasa yangmenyatakan bahwa pedagang budak sekarang mempunyai hak penuh atas diriorang yang sedang duduk di bawah pohon rindang itu. Abu Nawas pergi begitumenerima beberapa keping uang emas dari pedagang budak itu.Baginda Raja masih menunggu Abu Nawas di situ ketika pedagang budakmenghampirinya. la belum tahu mengapa Abu Nawas belum juga menampakkanbatang hidungnya. Baginda juga merasa heran mengapa ada orang lain di situ.”Siapa engkau?” tanya Baginda Raja kepada pedagang budak.”Aku adalah tuanmu sekarang.” kata pedagang budak itu agak kasar.Tentu saja pedagang budak itu tidak mengenali Baginda Raja Harun Al Rasyiddalam pakaian yang amat sederhana.”Apa maksud perkataanmu tadi?” tanya Baginda Raja dengan wajah merahpadam.55″Abu Nawas telah menjual engkau kepadaku dan inilah surat kuasa yang barudibuatnya.” kata pedagang budak dengan kasar.”Abu Nawas menjual diriku kepadamu?” kata Baginda makin murka.”Ya!” bentak pedagang budak.”Tahukah engkau siapa aku ini sebenarnya?” tanya Baginda geram.”Tidak dan itu tidak perlu.” kata pedagang budak seenaknya. Lalu ia menyeretbudak barunya ke belakang rumah. Sultan Harun Al Rasyid diberi parang dandiperintahkan untuk membelah kayu.Begitu banyak tumpukan kayu di belakang rumah badui itu sehinggamemandangnya saja Sultan Harun Al Rasyid sudah merasa ngeri, apalagi harusmengerjakannya.”Ayo kerjakan!”56Sultan Harun Al Rasyid mencoba memegang kayu dan mencoba membelahnya,namun si badui melihat cara Sultan Harun Al Rasyid memegang parang merasaaneh.”Kau ini bagaimana, bagian parang yang tumpul kau arahkan ke kayu, sungguhbodoh sekali !”Sultan Harun Al Rasyid mencoba membalik parang hingga bagian yang tajamterarah ke kayu. la mencoba membelah namun tetap saja pekerjaannya terasaaneh dan kaku bagi si badui.”Oh, beginikah derita orang-orang miskin mencari sesuap nasi, harus bekerjakeras lebih dahulu. Wah lama-lama aku tak tahan juga.” gumam Sultan Harun AlRasyid.Si badui menatap Sultan Harun Al Rasyid dengan pandangan heran dan lamalamamenjadi marah. la merasa rugi barusan membeli budak yang bodoh.”Hai badui! Cukup semua ini aku tak tahan.”57″Kurang ajar kau budakku harus patuh kepadaku!” kata badui itu sembarimemukul baginda. Tentu saja raja yang tak pernah disentuh orang iki menjeritkeras saat dipukul kayu.”Hai badui! Aku adalah rajamu, Sultan Harun Al Rasyid.” kata Baginda sambilmenunjukkan tanda kerajaannya.Pedagang budak itu kaget dan mulai mengenal Baginda Raja.la pun langsung menjatuhkan diri sembari menyembah Baginda Raja. BagindaRaja mengampuni pedagang budak itu karena ia memang tidak tahu. Tetapikepada Abu Nawas Baginda Raja amat murka dan gemas. Ingin rasanya beliaumeremas-remas tubuh Abu Nawas seperti telur.oo000ooAbu Nawas MatiBaginda Raja pulang ke istana dan langsung memerintahkan para prajuritnyamenangkap Abu Nawas. Tetapi Abu Nawas telah hilang entah kemana karena iatahu sedang diburu para prajurit kerajaan. Dan setelah ia tahu para prajuritkerajaan sudah meninggalkan rumahnya, Abu Nawas baru berani pulang kerumah.58″Suamiku, para prajurit kerajaan tadi pagi mencarimu.””Ya istriku, ini urusan gawat. Aku baru saja menjual Sultan Harun Al Rasyidmenjadi budak.””Apa?””Raja kujadikan budak!””Kenapa kau lakukan itu suamiku.””Supaya dia tahu di negerinya ada praktek jual beli budak. Dan jadi budak itusengsara.””Sebenarnya maksudmu baik, tapi Baginda pasti marah. Buktinya para prajuritdiperintahkan untuk menangkapmu.””Menurutmu apa yang akan dilakukan Sultan Harun Al Rasyid kepadaku.”59″Pasti kau akan dihukum berat.””Gawat, aku akan mengerahkan ilmu yang kusimpan,”Abu Nawas masuk ke dalam, ia mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat duarakaat. Lalu berpesan kepada istrinya apa yang harus dikatakan bila Bagindadatang.Tidak berapa alama kemudian tetangga Abu Nawas geger, karena istri AbuNawas menjerit-jerit.”Ada apa?” tanya tetangga Abu Nawas sambil tergopoh-gopoh.”Huuuuuu …. suamiku mati….!””Hah! Abu Nawas mati?””lyaaaa….!”60Kini kabar kematian Abu Nawas tersebar ke seluruh pelosok negeri. Bagindaterkejut. Kemarahan dan kegeraman beliau agak susut mengingat Abu Nawasadalah orang yang paling pintar menyenangkan dan menghibur Baginda Raja.Baginda Raja beserta beberapa pengawai beserta seorang tabib (dokter) istana,segera menuju rumah Abu Nawas. Tabib segera memeriksa Abu Nawas. Sesaatkemudian ia memberi laporan kepada Baginda bahwa Abu Nawas memang telahmati beberapa jam yang lalu.Setelah melihat sendiri tubuh Abu Nawas terbujur kaku tak berdaya, BagindaRaja marasa terharu dan meneteskan air mata. Beliau bertanya kepada istriAbu Nawas.”Adakah pesan terakhir Abu Nawas untukku?””Ada Paduka yang mulia.” kata istri Abu Nawas sambil menangis.”Katakanlah.” kata Baginda Raja.”Suami hamba, Abu Nawas, memohon sudilah kiranya Baginda Raja mengampunisemua kesalahannya dunia akhirat di depan rakyat.” kata istri Abu Nawasterbata-bata.61″Baiklah kalau itu permintaan Abu Nawas.” kata Baginda Raja menyanggupi.Jenazah Abu Nawas diusung di atas keranda. Kemudian Baginda Rajamengumpulkan rakyatnya di tanah lapang.Beliau berkata, “Wahai rakyatku, dengarkanlah bahwa hari ini aku, SultanHarun Al Rasyid telah memaafkan segala kesalahan Abu Nawas yang telahdiperbuat terhadap diriku dari dunia hingga akhirat. Dan kalianlah sebagaisaksinya.”Tiba-tiba dari dalam keranda yang terbungkus kain hijau terdengar suara keras,”Syukuuuuuuuur …… !”Seketika pengusung jenazah ketakukan, apalagi melihat Abu Nawas bangkitberdiri seperti mayat hidup. Seketika rakyat yang berkumpul lari tungganglanggang, bertubrukan dan banyak yang jatuh terkilir. Abu Nawas sendiri segeraberjalan ke hadapan Baginda. Pakaiannya yang putih-putih bikin Baginda kederjuga.”Kau… kau…. sebenarnya mayat hidup atau memang kau hidup lagi?” tanyaBaginda dengan gemetar.62″Hamba masih hidup Tuanku. Hamba mengucapkan terima kasih yang takterhingga atas pengampunan Tuanku.””Jadi kau masih hidup?””Ya, Baginda. Segar bugar, buktinya kini hamba merasa lapar dan ingin segerapulang.””Kurang ajar! Ilmu apa yang kau pakai Abu Nawas?”Ilmu dari mahaguru sufi guru hamba yang sudah meninggal dunia…””Ajarkan ilmu itu kepadaku…””Tidak mungkin Baginda. Hanya guru hamba yang mampu melakukannya.Hamba tidak bisa mengajarkannya sendiri.””Dasar pelit !” Baginda menggerutu kecewa.63oo000ooTaruhan Yang BerbahayaPada suatu sore ketika Abu Nawas ke warung teh kawan-kawannya sudahberada di situ. Mereka memang sengaja sedang menunggu Abu Nawas.”Nah ini Abu Nawas datang.” kata salah seorang dari mereka.”Ada apa?” kata Abu Nawas sambil memesan secangkir teh hangat.”Kami tahu engkau selalu bisa melepaskan diri dari perangkap-perangkap yangdirancang Baginda Raja Harun Al Rasyid. Tetapi kami yakin kali ini engkau pastidihukum Baginda Raja bila engkau berani melakukannya.” kawan-kawan AbuNawas membuka percakapan.”Apa yang harus kutakutkan. Tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakutikecuali kepada Allah Swt.” kata Abu Nawas menentang.64″Selama ini belum pernah ada seorang pun di negeri ini yang berani memantatiBaginda Raja Harun Al Rasyid. Bukankah begitu hai Abu Nawas?” tanya kawanAbu Nawas.”Tentu saja tidak ada yang berani melakukan hal itu karena itu adalahpelecehan yang amat berat hukumannya pasti dipancung.” kata Abu Nawasmemberitahu.”Itulah yang ingin kami ketahui darimu. Beranikah engkau melakukannya?””Sudah kukatakan bahwa aku hanya takut kepada Allah Swt. saja. Sekarang apataruhannya bila aku bersedia melakukannya?” Abu Nawas ganti bertanya.”Seratus keping uang emas. Disamping itu Baginda harus tertawa tatkala engkaupantati.” kata mereka. Abu Nawas pulang setelah menyanggupi tawaran yangamat berbahaya itu.Kawan-kawan Abu Nawas tidak yakin Abu Nawas sanggup membuat BagindaRaja tertawa apalagi ketika dipantati. Kayaknya kali ini Abu Nawas harusberhadapan dengan algojo pemenggal kepala.65Minggu depan Baginda Raja Harun Al Rasyid akan mengadakan jamuankenegaraan. Para menteri, pegawai istana dan orang-orang dekat Bagindadiundang, termasuk Abu Nawas. Abu Nawas merasa hari-hari berlalu dengancepat karena ia harus menciptakan jalan keluar yang paling aman bagikeselamatan lehernya dari pedang algojo. Tetapi bagi kawan-kawan Abu Nawashari-hari terasa amat panjang. Karena mereka tak sabar menunggu pertaruhanyang amat mendebarkan itu.Persiapan-persiapan di halaman istana sudah dimulai. Baginda Rajamenginginkan perjamuan nanti meriah karena Baginda juga mengundang rajarajadari negeri sahabat.Ketika hari yang dijanjikan tiba, semua tamu sudah datang kecuali Abu Nawas.Kawan-kawan Abu Nawas yang menyaksikan dari jauh merasa kecewa karenaAbu Nawas tidak hadir. Namun temyata mereka keliru. Abu Nawas bukannyatidak datang tetapi terlambat sehingga Abu Nawas duduk di tempat yang palingbelakang.Ceramah-ceramah yang mengesankan mulai disampaikan oleh para ahli pidato.Dan tibalah giliran Baginda Raja Harun Al Rasyid menyampaikan pidatonya.Seusai menyampaikan pidato Baginda melihat Abu Nawas duduk sendirian ditempat yang tidak ada karpetnya. Karena merasa heran Baginda bertanya,”Mengapa engkau tidak duduk di atas karpet?”66″Paduka yang mulia, hamba haturkan terima kaslh atas perhatian Baginda.Hamba sudah merasa cukup bahagia duduk di sini.” kata Abu Nawas.”Wahai Abu Nawas, majulah dan duduklah di atas karpet nanti pakaianmu kotorkarena duduk di atas tanah.” Baginda Raja menyarankan. “Ampun Tuanku yangmulia, sebenarnya hamba ini sudah duduk di atas karpet.”Baginda bingung mendengar pengakuan Abu Nawas. Karena Baginda melihatsendiri Abu Nawas duduk di atas lantai. “Karpet yang mana yang engkaumaksudkan wahai Abu Nawas?” tanya Baginda masih bingung.”Karpet hamba sendiri Tuanku yang mulia. Sekarang hamba selalu membawakarpet ke manapun hamba pergi.” Kata Abu Nawas seolah-olah menyimpanmisteri.”Tetapi sejak tadi aku belum melihat karpet yang engkau bawa.” kata BagindaRaja bertambah bingung.”Baiklah Baginda yang mulia, kalau memang ingin tahu maka dengan senanghati hamba akan menunjukkan kepada Paduka yang mulia.” kata Abu Nawassambil beringsut-ringsut ke depan. Setelah cukup dekat dengan Baginda, AbuNawas berdiri kemudian menungging menunjukkan potongan karpet yangditempelkan di bagian pantatnya. Abu Nawas kini seolah-olah memantatiBaginda Raja Harun Al Rasyid. Melihat ada sepotong karpet menempel di pantat67Abu Nawas, Baginda Raja tak bisa membendung tawa sehingga beliauterpingkal-pingkal diikuti oleh para undangan.Menyaksikan kejadian yang menggelikan itu kawan-kawan Abu Nawas merasakagum.Mereka harus rela melepas seratus keping uang emas untuk Abu Nawas.oo000ooKetenangan HatiSudan lama Abu nawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap Baginda.Abunawas juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abunawasbanyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abu nawas. Tentu sajakeadaan kedai tak semarak karena Abu nawas si pemicu tawa tidak ada.Suatu hari ada seorang laki-laki setengah baya ke kedai teh menanyakan Abunawas. la mengeluh bahwa ia tidak menemukan jalan keluar dari rnasalah pelikyang dihadapi.Salah seorang teman Abunawas ingin mencoba menolong.68″Cobalah utarakan kesulitanmu kepadaku barang-kali aku bisa membantu.” katakawan Abunawas.”Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggalbersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalusempit sehingga kami tidak merasa bahagia.” kata orang itu membeberkankesulitannya.Kawan Abunawas tidak mampu memberikan jalan keluar, juga yang lainnya.Sehingga mereka menyarankan agar orang itu pergi menemui Abunawas dirumahnya saja.Orang itu pun pergi ke rumah Abunawas. Dan kebetulan Abu Nawas sedangmengaji. Setelah mengutarakan kesulitan yang sedang dialami, Abunawasbertanya kepada orang itu.”Punyakah engkau seekor domba?””Tidak tetapi aku mampu membelinya.” jawab orang itu.69″Kalau begitu belilah seekor dan tempatkan domba itu di dalam rumahmu.”Abunawas menyarankan.Orang itu tidak membantah. la langsung membeli seekor domba seperti yangdisarankan Abunawas.Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas.”Wahai Abunawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahkubertambah sesak. Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi lebihburuk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba.” kata orang itu mengeluh.”Kalau begitu belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka didalam rumahmu:” kata Abunawas.Orang itu tidak membantah. la langsung membeli beberapa ekor unggas yangkemudian dimasukkan ke dalam rumahnya. Beberapa hari kemudian orang itudatang lagi ke rumah Abu Nawas.”Wahai Abu Nawas,aku telah melaksanakan saran-saranmu dengan menambahpenghuni rumahku dengan beberapa ekor unggas. Namun begitu aku dankeluargaku semakin tidak betah tinggal di rumah yang makin banyak70perighuninya. Kami bertambah merasa tersiksa.” kata orang itu dengan wajahyang semakin muram.”Kalau begitu belilah seekor anak unta dan peliharalah di dalam rumahmu.”kataAbu Nawas menyarankanOrang itu tidak membantah. la langsung ke pasar hewan membeli seekor anakunta untuk dipelihara di dalam rumahnya.Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas. la berkata,”Wahai Abu Nawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekaranghampir seperti neraka. Semuanya berubah menjadi lebih mengerikan dari padahari-hari sebelumnya. Wahai Abu Nawas, kami sudah tidak tahan tinggalserumah dengan binatang-binatang itu.” kata orang itu putus asa.”Baiklah, kalau kalian sudah merasa tidak tahan maka juallah anak unta itu.”kata Abu Nawas.Orang itu tidak membantah. la langsung menjual anak unta yang barudibelinya.71Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi ke rumah orang itu”Bagaimana keadaan kalian sekarang?” Abu Nawas bertanya.”Keadaannya sekarang lebih baik karena anak unta itu sudah tidak lagi tinggaldisini.” kata orang itu tersenyum. “Baiklah, kalau begitu sekarang juallahunggas-unggasmu.” kata Abu Nawas.Orang itu tidak membantah. la langsung menjual unggas-unggasnya.Beberapa hari kemudian Abu Nawas mengunjungi orang itu.”Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?” Abu Nawas bertanya.”Keadaan sekarang lebih menyenangkan karena unggas-unggas itu sudah tidaktinggal bersama kami.” kata orang itu dengan wajah ceria.”Baiklah kalau begitu sekarang juallah domba itu.” kata Abu Nawas.72Orang itu tidak membantah. Dengan senang hati ia langsung menjualdombanya.Beberapa hari kemudian Abu Nawas bertamu ke rumah orang itu. la bertanya,”Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?” “Kami merasakan rumah kamibertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak lagi tinggal bersamakami. Dan kami sekarang merasa lebih berbahagia daripada dulu. Kamimengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadamu hai Abu Nawas.” kataorang itu dengan wajah berseri-seri.”Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu. Kalauengkau selalu bersyukur atas nikmat dari Tuhan maka Tuhan akan mencabutkesempitan dalam hati dan pikiranmu.” kata Abu Nawas menjelaskan.Dan sebelum Abu Nawas pulang, ia bertanya kepada orang itu,”Apakah engkau sering berdoa ?””Ya.” jawab orang itu.73″Ketahuilah bahwa doa seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah karenamanakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau ketika Dia tidakmemberi engkau, maka ketiadaan pemberian itu merupakan pemberian yangsebenarnya.”oo000ooManusia BertelurSudah bertahun-tahun Baginda Raja Harun Al Rasyid ingin mengalahkan AbuNawas. Namun perangkap-perangkap yang selama ini dibuat semua bisa diatasidengan cara-cara yang cemerlang oleh Abu Nawas. Baginda Raja tidak putusasa. Masih ada puluhan jaring muslihat untuk menjerat Abu Nawas.Baginda Raja beserta para menteri sering mengunjungi tempat pemandian airhangat yang hanya dikunjungi para pangeran, bangsawan dan orang-orang terkenal.Suatu sore yang cerah ketika Baginda Raja beserta para menterinyaberendam di kolam, beliau berkata kepada para menteri,”Aku punya akal untuk menjebak Abu Nawas.””Apakah itu wahai Paduka yang mulia ?” tanya salah seorang menteri.74″Kalian tak usah tahu dulu. Aku hanya menghendaki kalian datang lebih dinibesok sore. Jangan lupa datanglah besok sebelum Abu Nawas datang karenaaku akan mengundangnya untuk mandi bersama-sama kita.” kata Baginda Rajamemberi pengarahan. Baginda Raja memang sengaja tidak menyebutkan tipuanapa yang akan digelar besok.Abu Nawas diundang untuk mandi bersama Baginda Raja dan para menteri dipemandian air hangat yang terkenal itu. Seperti yang telah direncanakan,Baginda Raja dan para meriteri sudah datang lebih dahulu. Baginda membawasembilan belas butir telur ayam. Delapan belas butir dibagikan kepada paramenterinya. Satu butir untuk dirinya sendiri. Kemudian Baginda memberi pengarahansingkat tentang apa yang telah direncanakan untuk menjebak AbuNawas.Ketika Abu Nawas datang, Baginda Raja beserta para menteri sudah berendamdi kolam. Abu Nawas melepas pakaian dan langsung ikut berendam. Abu Nawasharap-harap cemas. Kira-kira permainan apa lagi yang akan dihadapi. Mungkinpermainan kali ini lebih berat karena Baginda Raja tidak memberi tenggangwaktu untuk berpikir.Tiba-tiba Baginda Raja membuyarkan lamunan Abu Nawas. Beliau berkata, “HaiAbu Nawas, aku mengundangmu mandi bersama karena ingin mengajak engkauikut dalam permainan kami””Permainan apakah itu Paduka yang mulia ?” tanya Abu Nawas belum mengerti.75″Kita sekali-kali melakukan sesuatu yang secara alami hanya bisa dilakukan olehbinatang. Sebagai manusia kita mesti bisa dengan cara kita masing-masing.”kata Baginda sambil tersenyum.”Hamba belum mengerti Baginda yang mulia.” kata Abu Nawas agak ketakutan.”Masing-masing dari kita harus bisa bertelur seperti ayam dan barang siapa yangtidak bisa bertelur maka ia harus dihukum!” kata Baginda.Abu Nawas tidak berkata apa-apa.Wajahnya nampak murung. la semakin yakindirinya tak akan bisa lolos dari lubang jebakan Baginda dengan mudah.Melihat wajah Abu Nawas murung, wajah Baginda Raja semakin berseri-seri.”Nan sekarang apalagi yang kita tunggu. Kita menyelam lalu naik ke atas sambilmenunjukkan telur kita masing-masing.” perintah Baginda Raja.Baginda Raja dan para menteri mulai menyelam, kemudian naik ke atas satupersatu derigan menanting sebutir telur ayam. Abu Nawas masih di dalamkolam. ia tentu saja tidak sempat mempersiapkan telur karena ia memang76tidak tahu kalau ia diharuskan bertelur seperti ayam. Kini Abu Nawas tahukalau Baginda Raja dan para menteri telah mempersiapkan telur masing-masingsatu butir. Karena belum ada seorang manusia pun yang bisa bertelur dan tidakakan pernah ada yang bisa.Karena dadanya mulai terasa sesak. Abu Nawas cepat-cepat muncul kepermukaan kemudian naik ke atas. Baginda Raja langsung mendekati AbuNawas.Abu Nawas nampak tenang, bahkan ia berlakau aneh, tiba-tiba saja iamengeluarkan suara seperti ayam jantan berkokok, keras sekali sehinggaBaginda dan para menterinya merasa heran.”Ampun Tuanku yang mulia. Hamba tidak bisa bertelur seperti Baginda dan paramenteri.” kata Abu Nawas sambil membungkuk hormat.”Kalau begitu engkau harus dihukum.” kata Baginda bangga.”Tunggu dulu wahai Tuanku yang mulia.” kata Abu Nawas memohon.”Apalagi hai Abu Nawas.” kata Baginda tidak sabar.77″Paduka yang mulia, sebelumnya ijinkan hamba membela diri. Sebenarnyakalau hamba mau bertelur, hamba tentu mampu. Tetapi hamba merasamenjadi ayam jantan maka hamba tidak bertelur. Hanya ayam betina saja yangbisa bertelur. Kuk kuru yuuuuuk…!” kata Abu Nawas dengan membusungkandada.Baginda Raja tidak bisa berkata apa-apa. Wajah Baginda dan para menteri yangsemula cerah penuh kemenangan kini mendadak berubah menjadi merahpadam karena malu. Sebab mereka dianggap ayam betina.Abu Nawas memang licin, malah kini lebih licin dari pada belut. Karena merasamalu, Baginda Raja Harun Al Rasyid dan para menteri segera berpakaian dankembali ke istana tanpa mengucapkan sapatah kata pun.Memang Abu Nawas yang tampaknya blo’on itu sebenarnya diakui oleh parailmuwan sebagai ahli mantiq atau ilmu logika. Gampang saja baginya untukmembolak-balikkan dan mempermainkan kata-kata guna menjatuhkan mentallawan-lawannya.oo000ooPeringatan Aneh78Suatu hari Abu Nawas dipanggil Baginda.”Abu Nawas.” kata Baginda Raja Harun Al Rasyid memulai pembicaraan.”Daulat Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas penuh takzim.”Aku harus berterus terang kepadamu bahwa kali ini engkau kupanggil bukanuntuk kupermainkan atau kuperangkap. Tetapi aku benar-benar memerlukanbantuanmu.” kata Baginda bersungguh-sungguh.”Gerangan apakah yang bisa hamba lakukan untuk Paduka yang mulia?” tanyaAbu Nawas.”Ketahuilah bahwa beberapa hari yang lalu aku mendapat kunjungankenegaraan dari negeri sahabat. Kebetulan rajanya beragama Yahudi. Raja ituadalah sahabat karibku. Begitu dia berjumpa denganku dia langsungmengucapkan salam secara Islam, yaitu Assalamualaikum (kesejahteraan buatkalian semua) Aku tak menduga sama sekali. Tanpa pikir panjang akumenjawab sesuai dengan yang diajarkan oleh agama kita, yaitu kalau mendapatsalam dari orang yang tidak beragama Islam hendaklah engkau jawab denganWassamualaikum (Kecelakaan bagi kamu) Tentu saja dia merasa tersinggung.Dia menanyakan mengapa aku tega membalas salamnya yang penuh doakeselamatan dengan jawaban yang mengandung kecelakaan. Saat itu sungguhaku tak bisa berkata apa-apa selain diam. Pertemuanku dengan dia selanjutnyatidak berjalan dengan semestinya. Aku berusaha menjelaskan bahwa aku hanya79melaksanakan apa yang dianjurkan oleh ajaran agama Islam. Tetapi dia tidakbisa menerima penjelasanku. Aku merasakan bahwa pandangannya terhadapagama Islam tidak semakin baik, tetapi sebaliknya. Dan sebelum kami berpisahdia berkata: Rupanya hubungan antara. kita mulai sekarang tidak semakin baik,tetapi sebaliknya. Namun bila engkau mempunyai alasan laih yang bisa akuterima, kita akan tetap bersahabat.” kata Baginda menjelaskan dengan wajahyang amat murung.”Kalau hanya itu persoalannya, mungkin, hamba bisa memberikan alasan yangdikehendaki rajaf sahabat Paduka itu yang mulia.” kata Abu Nawas meyakinkanBaginda.Mendengar kesanggupan Abu Nawas, Baginda amat riang. Beliau berulang-ulangmenepuk pundak Abu Nawas. Wajah Baginda yang semula gundah gulanaseketika itu berubah cerah secerah matahari di pagi hari.”Cepat katakan, wahai Abu Nawas. Jangan biarkan aku menunggu.” kataBaginda tak sabar.”Baginda yang mulia, memang sepantasnyalah kalau raja Yahudi itumenghaturkan ucapan salam keselamatan dan kesejahteraan kepada Baginda.Karena ajaran Islam memang menuju keselamatan (dari siksa api neraka) dankesejahteraan (surga) Sedangkan Raja Yahudi itu tahu Baginda adalah orangIslam. Bukankah Islam mengajarkan tauhid (yaitu tidak menyekutukan Allahdengan yang lain, juga tidak menganggap Allah mempunyai anak. Ajaran tauhidini tidak dimiliki oleh agama-agama lain termasuk agama yang dianut RajaYahudi sahabat Paduka yang mulia. Ajaran agama Yahudi menganggap Uzair80adalah anak Allah seperti orang Nasrani beranggapan Isa anak Allah. Maha SuciAllah dari segala sangkaan mereka.Tidak pantas Allah mempunyai anak.Sedangkan orang Islam membalas salam dengan ucapan Wassamualaikum(kecelakaan bagi kamu) bukan berarti kami mendoakan kamu agar celaka.Tetapi semata-mata karena ketulusan dan kejujuran ajaran Islam yang masihbersedia memperingatkan orang lain atas kecelakaan yang akan menimpamereka bila mereka tetap berpegang teguh pada keyakinan yang keliru itu,yaitu tuduhan mereka bahwa Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak.” AbuNawas menjelaskan.Seketika itu kegundahan Baginda Raja Harun Al Rasyid sirna. Kali ini sakinggembiranya Baginda menawarkan Abu Nawas agar memilih sendiri hadiah apayang disukai. Abu Nawas tidak memilih apa-apa karena ia berkeyakinan bahwatak selayaknya ia menerima upah dari ilmu agama yang ia sampaikan.oo000ooAsmara Memang AnehSecara tak terduga Pangeran yang menjadi putra marikota jatuh sakit. Sudahbanyak tabib yang didatangkan untuk memeriksa dan mengobati tapi takseorang pun mampu menyembuhkannya. Akhirnya Raja mengadakansayembara. Sayembara boleh diikuti oleh rakyat dari semua lapisan. Tidakterkecuali oleh para penduduk negeri tetangga.Sayembara yang menyediakan hadiah menggiurkan itu dalam waktu beberapahari berhasil menyerap ratusan peserta. Namun tak satu pun dari mereka81berhasil mengobati penyakit sang pangeran. Akhirnya sebagai sahabat dekatAbu Nawas, menawarkan jasa baik untuk menolong sang putra mahkota.Baginda Harun Al Rasyid menerima usul itu dengan penuh harap. Abu Nawassadar bahwa dirinya bukan tabib. Dari itu ia tidak membawa peralatan apa-apa.Para tabib yang ada di istana tercengang melihat Abu Nawas yang datang tanpaperalatan yang mungkin diperlukan. Mereka berpikir mungkinkah orang macamAbu Nawas ini bisa mengobati penyakit sang pangeran? Sedangkan para tabibterkenal dengan peralatan yang lengkap saja tidak sanggup. Bahkanpenyakitnya tidak terlacak. Abu Nawas merasa bahwa seluruh perhatian tertujupadanya. Namun Abu Nawas tidak begitu memperdulikannya.Abu Nawas dipersilahkan memasuki kamar pangeran yang sedang terbaring. lamenghampiri sang pangeran dan duduk di sisinya.Setelah Abu Nawas dan sang pangeran saling pandang beberapa saat, AbuNawas berkata, “Saya membutuhkan seorang tua yang di masa mudanya seringmengembara ke pelosok negeri.”Orang tua yang diinginkan Abu Nawas didatangkan. “Sebutkan satu persatunama-nama desa di daerah selatan.” perintah Abu Nawas kepada orang tua itu.Ketika orang tua itu menyebutkan nama-nama desa bagian selatan, Abu Nawasmenempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Kemudian Abu Nawasmemerintahkan agar menyebutkan bagian utara, barat dan timur. Setelah82semua bagian negeri disebutkan, Abu Nawas mohon agar diizinkan mengunjungisebuah desa di sebelah utara. Raja merasa heran.”Engkau kuundang ke sini bukan untuk bertamasya.” “Hamba tidak bermaksudberlibur Yang Mulia.” kata Abu Nawas.”Tetapi aku belum paham.” kata Raja.”Maafkan hamba, Paduka Yang Mulia. Kurang bijaksana rasanya bila hambajelaskan sekarang.” kata Abu Nawas. Abu Nawas pergi selama dua hari.Sekembali dari desa itu Abu Nawas menemui sang pangeran dan membisikkansesuatu kemudian menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Lalu AbuNawas menghadap Raja.”Apakah Yang Mulia masih menginginkan sang pangeran tetap hidup?” tanyaAbu Nawas.”Apa maksudmu?” Raja balas bertanya.83″Sang pangeran sedang jatuh cinta pada seorang gadis desa di sebelah utaranegeri ini.” kata Abu Nawas menjelaskan.”Bagaimana kau tahu?””Ketika nama-nama desa di seluruh negeri disebutkan tiba-tiba degupjantungnya bertambah keras ketika mendengarkan nama sebuah desa di bagianutara negeri ini. Dan sang pangeran tidak berani mengutarakannya kepadaBaginda.””Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Raja.”Mengawinkan pangeran dengan gadis desa itu.””Kalau tidak?” tawar Raja ragu-ragu.”Cinta itu buta. Bila kita tidak berusaha mengobati kebutaannya, maka ia akanmati.” Rupanya saran Abu Nawas tidak bisa ditolak. Sang pangeran adalah putrasatu-satunya yang merupakan pewaris tunggal kerajaan.84Abu Nawas benar. Begitu mendengar persetujuan sang Raja, sang pangeranberangsur-angsur pulih. Sebagai tanda terima kasih Raja memberi Abu Nawassebuah cincin permata yang amat indah.oo000ooCara Memilih JalanKawan-kawan Abu Nawas merencanakan akan mengadakan perjalanan wisatake hutan. Tetapi tanpa keikutsertaan Abu Nawas perjalanan akan terasamemenatkan dan membosankan. Sehingga mereka beramai-ramai pergi kerumah Abu Nawas untuk mengajaknya ikut serta. Abu Nawas tidak keberatan.Mereka berangkat dengan mengendarai keledai masing-masing sambilbercengkrama.Tak terasa mereka telah menempuh hampir separo perjalanan. Kini merekatiba di pertigaan jalan yang jauh dari perumahan penduduk. Mereka berhentikarena mereka ragu-ragu. Setahu mereka kedua jalan itu memang menuju kehutan tetapi hutan yang mereka tuju adalah hutan wisata. Bukan hutan yangdihuni binatang-binatang buas yang justru akan membahayakan jiwa mereka.Abu Nawas hanya bisa menyarankan untuk tidak meneruskan perjalanan karenabila salah pilih maka mereka semua tak akan pernah bisa kembali. Bukankahlebih bijaksana bila kita meninggalkan sesuatu yang meragukan? Tetapi salahseorang dari mereka tiba-tiba berkata,85″Aku mempunyai dua orang sahabat yang tinggal dekat semak-semak sebelahsana. Mereka adalah saudara kembar. Tak ada seorang pun yang bisamembedakan keduanya karena rupa mereka begitu mirip. Yang satu selaluberkata jujur sedangkan yang lainnya selalu berkata bohong. Dan merekaadalah orang-orang aneh karena mereka hanya mau menjawab satu pertanyaansaja.””Apakah engkau mengenali salah satu dari mereka yang selalu berkata benar?”tanya Abu Nawas.”Tidak.” jawab kawan Abu Nawas singkat.”Baiklah kalau begitu kita beristirahat sejenak.” usul Abu Nawas.Abu Nawas makan daging dengan madu bersama kawan-kawannya.Seusai makan mereka berangkat menuju ke rumah yang dihuni dua orangkembar bersaudara. Setelah pintu dibuka, maka keluarlah salah seorang daridua orang kembar bersaudara itu.”Maaf, aku sangat sibuk hari ini. Engkau hanya boleh mengajukan satupertanyaan saja. Tidak boleh lebih.” katanya. Kemudian Abu Nawas86menghampiri orang itu dan berbisik. Orang itu pun juga menjawab dengan caraberbisik pula kepada Abu Nawas. Abu Nawas mengucapkan terima kasih dansegera mohon diri.”Hutan yang kita tuju melewati jalan sebelah kanan.” kata Abu Nawas mantapkepada kawan-kawannya.”Bagaimana kau bisa memutuskan harus menempuh jalan sebelah kanan?Sedangkan kita tidak tahu apakah orang yang kita tanya itu orang yang selaluberkata benar atau yang selalu berkata bohong?” tanya salah seorang darimereka.”Karena orang yang kutanya menunjukkan jalan yang sebelah kiri.” kata AbuNawas.Karena masih belum mengerti juga, maka Abu Nawas menjelaskan. “Tadi akubertanya: Apa yang akan dikatakan saudaramu bila aku bertanya jalan yangmana yang menuju hutan yang indah?” Bila jalan yang benar itu sebelah kanandan bila orang itu kebetulan yang selalu berkata benar maka ia akanmenjawab: Jalan sebelah kiri, karena ia tahu saudara Kembarnya akanmengatakan jalan sebelah kiri sebab saudara kembarnya selalu berbohong. Bilaorang itu kebetulan yang selalu berkata bohong, maka ia akan menjawab: jalansebelah kiri, karena ia tahu saudara kembarnya akan mengatakan jalan sebelahkiri sebab saudara kembarnya selalu berkata benar.87oo000ooStrategi MalingTanpa pikir panjang Abu Nawas memutuskan untuk menjual keledaikesayangannya. Keledai itu merupakan kendaraan Abu Nawas satu-satunya.Sebenarnya ia tidak tega untuk menjualnya. Tetapi keluarga Abu Nawas amatmembutuhkan uang. Dan istrinya setuju.Keesokan harinya Abu Nawas membawa keledai ke pasar. Abu Nawas tidak tahukalau ada sekelompok pencuri yang terdiri dari empat orang telah mengetahuikeadaan dan rencana Abu Nawas. Mereka sepakat akan memperdaya AbuNawas. Rencana pun mulai mereka susun.Ketika Abu Nawas beristirahat di bawah pohon, salah seorang mendekat danberkata,”Apakah engkau akan menjual kambingmu?”Tentu saja Abu Nawas terperanjat mendengar pertanyaan yang begitu tibatiba.88″Ini bukan kambing.” kata Abu Nawas.”Kalau bukan kambing, lalu apa?” tanya pencuri itu selanjutnya.”Keledai.” kata Abu Nawas.”Kalau engkau yakin itu keledai, jual saja ke pasar dan dan tanyakan padamereka.” kata komplotan pencuri itu sambil berlalu. Abu Nawas tidakterpengaruh. Kemudian ia meneruskan perjalanannya.Ketika Abu Nawas sedang menunggang keledai, pencuri kedua menghampirinyadan berkata.”Mengapa kau menunggang kambing.””Ini bukan kambing tapi keledai.””Kalau itu keledai aku tidak bertanya seperti itu, dasar orang aneh. Kambingkok dikatakan keledai.”89″Kalau ini kambing’ aku tidak akan menungganginya.” jawab Abu Nawas tanparagu.”Kalau engkau tidak percaya, pergilah ke pasar dan tanyakan pada orang-orangdi sana.” kata pencuri kedua sambil berlalu.Abu Nawas belum terpengaruh dan ia tetap berjalan menuju pasar.Pencuri ketiga datang menghampiri Abu Nawas,”Hai Abu Nawas akan kau bawake mana kambing itu?”Kali ini Abu Nawas tidak segera menjawab.la mulai ragu, sudah tiga orangmengatakan kalau hewan yang dibawanya adalah kambing.Pencuri ketiga tidak menyia-nyiakan kesempatan. la makin merecoki otak AbuNawas, “Sudahlah, biarpun kau bersikeras hewan itu adalah keledai nyatanyaitu adalah kambing, kambing ……. kambiiiiiing !”Abu Nawas berhenti sejenak untuk beristirahat di bawah pohon. Pencurikeempat melaksanakan strategi busuknya. la duduk di samping Abu Nawas danmengajak tokoh cerdik ini untuk berbincang-bincang.90″Ahaa, bagus sekali kambingmu ini…!” pencuri keempat membuka percakapan.”Kau juga yakin ini kambing?” tanya Abu Nawas.”Lho? ya jelas sekali kalau hewan ini adalah kambing. Kalau boleh aku inginmembelinya.””Berapa kau mau membayarnya?””Tiga dirham!”Abu Nawas setuju. Setelah menerima uang dari pencuri keempat kemudian AbuNawas langsung pulang. Setiba di rumah Abu Nawas dimarahi istrinya.”Jadi keledai itu hanya engkau jual tiga dirham lantaran mereka mengatakanbahwa keledai itu kambing?” Abu Nawas tidak bisa menjawab. la hanyamendengarkan ocehan istrinya dengan setia sambil menahan rasa dongkol. Kiniia baru menyadari kalau sudah diperdayai oleh komplotan pencuri yangmenggoyahkan akal sehatnya.91Abu Nawas merencanakan sesuatu. la pergi ke hutan mencari sebatang kayuuntuk dijadikan sebuah tongkat yang nantinya bisa menghasilkan uang..Rencana Abu Nawas ternyata berjalan lancar. Hampir semua orangmembicarakan keajaiban tongkat Abu Nawas. Berita ini juga terdengar olehpara pencuri yang telah menipu Abu Nawas. Mereka langsung tertarik. Bahkanmereka melihat sendiri ketika Abu Nawas membeli barang atau makan tanpamembayar tetapi hanya dengan mengacungkan tongkatnya. Mereka berpikirkalau tongkat itu bisa dibeli maka tentu mereka akan kaya karena hanyadengan mengacungkan tongkat itu mereka akan mendapatkan apa yang merekainginkan.Akhirnya mereka mendekati Abu Nawas dan berkata, “Apakah tongkatmu akandijual?””Tidak.” jawab Abu Nawas dengan cuek.”Tetapi kami bersedia membeli dengan harga yang amat tinggi.” kata mereka.”Berapa?” kata Abu Nawas pura-pura merasa tertarik.”Seratus dinar uang emas.” kata mereka tanpa ragu-ragu.92″Tetapi tongkat ini adalah tongkat wasiat satu-satunya yang aku miliki.” kataAbu Nawas sambil tetap berpura-pura tidak ingin menjual tongkatnya.”Dengan uang seratus dinar engkau sudah bisa hidup enak.” Kata mereka makinpenasaran.Abu Nawas diam beberapa saat sepertinya merasa keberatan sekali.”Baiklah kalau begitu.” kata Abu Nawas kemudian sambil menyerahkantongkatnya.Setelah menerima seratus dinar uang emas Abu Nawas segera melesat pulang.Para pencuri itu segera mencari warung terdekat untuk membuktikan keajaibantongkat yang baru mereka beli. Seusai makan mereka mengacungkan tongkatitu kepada pemilik kedai. Tentu saja pemilik kedai marah.”Apa maksudmu mengacungkan tongkat itu padaku?” “Bukankah Abu Nawas jugamengacungkan tongkat ini dan engkau membebaskannya?” tanya para pencuriitu.93″Benar. Tetapi engkau harus tahu bahwa Abu Nawas menitipkan sejumlah uangkepadaku sebelum makan di sini!””Gila! Temyata kita tidak mendapat keuntungan sama sekali menipu AbuNawas. Kita malah rugi besar!” umpat para pencuri dengan rasa dongkol.oo000ooMenjebak PencuriPada zaman dahulu orang berpikir dengan cara yang amat sederhana. Dankarena kesederhanaan berpikir ini seorang pencuri yang telah berhasilmenggondol seratus keping lebih uang emas milik seorang saudagar kaya tidaksudi menyerah.Hakim telah berusaha keras dengan berbagai cara tetapi tidak berhasilmenemukan pencurinya. Karena merasa putus asa pemilik harta itumengumumkan kepada siapa saja yang telah mencuri harta miliknya merelakanseparo dari jumlah uang emas itu menjadi milik sang pencuri bila sang pencuribersedia mengembalikan. Tetapi pencuri itu malah tidak berani menampakkanbayangannya.Kini kasus itu semakin ruwet tanpa penyelesaian yang jelas. Maksud baiksaudagar kaya itu tidak mendapat-tanggapan yang sepantasnya dari sangpencuri. Maka tidak bisa disalahkan bila saudagar itu mengadakan sayembara94yang berisi barang siapa berhasil menemukan pencuri uang emasnya, ia berhaksepenuhnya memiliki harta yang dicuri.Tidak sedikit orang yang mencoba tetapi semuanya kandas. Sehingga pencuriitu bertambah merasa aman tentram karena ia yakin jati dirinya tak akanterjangkau. Yang lebih menjengkelkan adalah ia juga berpura-pura mengikutisayembara. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa menghadapi orang sepertiini bagaikan menghadapi jin. Mereka tahu kita, sedangkan kita tidak. Seorangpenduduk berkata kepada hakim setempat.”Mengapa tuan hakim tidak minta bantuan Abu Nawas saja?””Bukankah Abu Nawas sedang tidak ada di tempat?” kata hakim itu balikbertanya.”Kemana dia?” tanya orang itu.”Ke Damakus.” jawab hakim”Untuk keperluan apa?” orang itu ingin tahu.95″Memenuhi undangan pangeran negeri itu.” kata hakim.”Kapan ia datang?” tanya orang itu lagi.”Mungkin dua hari lagi.” jawab hakim.Kini harapan tertumpu sepenuhnya di atas pundak Abu Nawas.Pencuri yang selama ini merasa aman sekarang menjadi resah dan tertekan. lamerencanakan meninggalkan kampung halaman dengan membawa serta uangemas yang berhasil dicuri. Tetapi ia membatalkan niat karena denganmenyingkir ke luar daerah berarti sama halnya dengan membuka topeng dirinyasendiri. la lalu bertekad tetap tinggal apapun yang akan terjadi.Abu Nawas telah kembali ke Baghdad karena tugasnya telah selesai. Abu Nawasmenerima tawaran mengikuti sayembara menemukan pencuri uang emas. Hatipencuri uang emas itu tambah berdebar tak karuan mendengar Abu Nawasmenyiapkan siasat.Keesokan harinya semua penduduk dusun diharuskan berkumpul di depangedung pengadilan. Abu Nawas hadir dengan membawa tongkat dalam jumlahbesar. Tongkat-tongkat itu mempunyai ukuran yang sama panjang. Tanpa96berkata-kata Abu Nawas membagi-bagikan tongkat-tongkat yang dibawanyadari runnah.Setelah masing-masing mendapat satu tongkat, Abu Nawas berpidato, “Tongkattongkatitu telah aku mantrai. Besok pagi kalian harus menyerahkan kembalitongkat yang telah aku bagikan. Jangan khawatir, tongkat yang dipegang olehpencuri selama ini menyembunyikan diri akan bertambah panjang satu jaritelunjuk. Sekarang pulanglah kalian.”Orang-orang yang merasa tidak mencuri tentu tidak mempunyai pikiran apaapa.Tetapi sebaliknya, si pencuri uang emas itu merasa ketakutan. la tidakbisa memejamkan mata walaupun malam semakin larut. la terus berpikir keras.Kemudian ia memutuskan memotong tongkatnya sepanjang satu jari telunjukdengan begitu tongkatnya akan tetap kelihatan seperti ukuran semula.Pagi hari orang mulai berkumpul di depan gedung pengadilan. Pencuri itumerasa tenang karena ia yakin tongkatnya tidak akan bisa diketahui karena iatelah memotongnya sepanjang satu jari telunjuk. Bukankah tongkat si pencuriakan bertambah panjang satu jari telunjuk? la memuji kecerdikan diri sendirikarena ia ternyata akan bisa mengelabui Abu Nawas.Antrian panjang mulai terbentuk. Abu Nawas memeriksa tongkat-tongkat yangdibagikan kemarin. Pada giliran si pencuri tiba Abu Nawas segera mengetahuikarena tongkat yang dibawanya bertambah pendek satu jari telunjuk. AbuNawas tahu pencuri itu pasti melakukan pemotongan pada tongkatnya karena iatakut tongkatnya bertambah panjang.97Pencuri itu diadili dan dihukum sesuai dengan kesalahannya. Seratus kepinglebih uang emas kini berpindah ke tangan Abu Nawas. Tetapi Abu Nawas tetapbijaksana, sebagian dari hadiah itu diserahkan kembali kepada keluarga sipencuri, sebagian lagi untuk orang-orang miskin dan sisanya untuk keluarga AbuNawas sendiri.oo000ooTipu Dibalas TipuAda seorang Yogis (Ahli Yoga) mengajak seorang Pendeta bersekongkol akanmemperdaya Iman Abu Nawas. Setelah mereka mencapai kata sepakat, merekaberangkat menemui Abu Nawas di kediamannya.Ketika mereka datang Abu Nawas sedang melakukan salat Dhuha. Setelahdipersilahkan masuk oleh istri Abu Nawas mereka masuk dan menunggu sambilberbincang-bincang santai.Seusai salat Abu Nawas menyambut mereka. Abu Nawas dan para tamunyabercakap-cakap sejenak.98″Kami sebenarnya ingin mengajak engkau melakukan pengembaraan suci. Kalauengkau tidak keberatan bergabunglah bersama kami.” kata Ahli Yoga.”Dengan senang hati. Lalu kapan rencananya?” tanya Abu Nawas polos.”Besok pagi.” kata Pendeta.”Baiklah kalau begitu kita bertemu di warung teh besok.” kata Abu Nawasmenyanggupi.Hari berikutnya mereka berangkat bersama. Abu Nawas mengenakan jubahseorang Sufi. Ahli Yoga dan Pendeta memakai seragam keagamaan merekamasing-masing. Di tengah jalan mereka mulai diserang rasa lapar karenamereka memang sengaja tidak membawa bekal.”Hai Abu Nawas, bagaimana kalau engkau saja yang mengumpulkan derma gunamembeli makanan untuk kita bertiga. Karena kami akan mengadakankebaktian.” kata Pendeta. Tanpa banyak bicara Abu Nawas berangkat mencaridan mengumpulkan derma dari dusun satu ke dusun lain. Setelah dermaterkumpul, Abu Nawas membeli makanan yang cukup untuk tiga orang. AbuNawas kembali ke Pendeta dan Ahli Yoga dengan membawa makanan. Karenasudah tak sanggup menahan rasa lapar Abu Nawas berkata,99″Mari segera kita bagi makanan ini sekarang juga.” “Jangan sekarang. Kamisedang berpuasa.” kata Ahli Yoga.”Tetapi aku hanya menginginkan bagianku saja sedangkan bagian kalianterserah pada kalian.” kata Abu Nawas menawarkan jalan keluar.”Aku tidak setuju. Kita harus seiring seirama dalam berbuat apa pun:” kataPendeta.”Betul aku pun tidak setuju karena waktu makanku besok pagi.Besok pagi aku baru akan berbuka.” kata Ahli Yoga.”Bukankah aku yang engkau jadikan alat pencari derma Dan derma itu sekarangtelah kutukar dengan makanan ini. Sekarang kalian tidak mengijinkan akumengambil bagian sendiri. Itu tidak masuk akal.” kata Abu Nawas mulai merajengkel. Namun begitu Pendeta dan Ahli Yoga tetap bersikeras tidakmengijinkan Abu Nawas mengambil bagian yang menja haknya.Abu Nawas penasaran. la mencoba sekali lagi meyakinkan kawan-kawannyaagar mengijinkan ia memakan bagianya. Tetapi mereka tetap saja menolak.100Abu Nawas benar-benar merasa jengkel dan marah. Namun Abu Nawas tidmemperlihatkan sedikit pun kejengkelan dan kemarahannya.”Bagaimana kalau kita mengadakan perjanjian.” kata Pendeta kepada AbuNawas.”Perjanjian apa?” tanya Abu Nawas.”Kita adakan lomba. Barangsiapa di antara kita bermimpi paling indah maka iaakan mendapat bagian yang terbanyak yang kedua lebih sedikit dan yangterburuk akan mendapat paling sedikit.” Pendeta itu menjelaskan.Abu Nawas setuju. la tidak memberi komentar apa-apa.IVfalam semakin larut. Embun mulai turun ke bumi. Pendeta dan Ahli Yogamengantuk dan tidur. Abu Nawas tidak bisa tidur. la hanya berpura-pura tidur.Setelah merasa yakin kawan-kawannya sudah terlelap Abu Nawas menghampirimakanan itu. Tanpa berpikir dua kali Abu Nawas memakan habis makanan ituhinggatidak tersisa sedikit pun. Setelah merasa kekenyangan Abu Nawas barubisa tidur.101Keesokan hari mereka bangun hampir bersamaan. Ahli Yoga dengan wajahberseri-seri bercerita,”Tadi malam aku bermimpi memasuki sebuah taman yang mirip sekali denganNirvana. Aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnyadalam hidup ini.”Pendeta mengatakan bahwa mimpi Ahli Yoga benar-benar menakjubkan. Betulbetulluar biasa. Kemudian giliran Pendeta menceritakan mimpinya.”Aku seolah-olah menembus ruang dan waktu. Dan temyata memang benar. Akusecara tidak sengaja berhasil menyusup ke masa silam dimana pendiri agamakuhidup. Aku bertemu dengan beliau dan yang lebih membahagiakan adalah akudiberkatinya.”Ahli Yoga juga memuji-muji kehebatan mimpi Pendeta, Abu Nawas hanya diam.la bahkan tidak merasa tertarik sedikitpun.Karena Abu Nawas belum juga buka mulut, Pendeta dai Ahli Yoga mulai tidaksabar untuk tidak menanyakan mimpi Abu Nawas.102″Kalian tentu tahu Nabi Daud alaihissalam. Beliau adalah seorang nabi yang ahliberpuasa. Tadi malam aku bermimpi berbincang-bincang dengan beliau. Beliaumenanyakan apakah aku berpuasa atau tidak. Aku katakan aku berpuasa karenaaku memang tidak makan sejak dini hari Kemudian beliau menyuruhku segeraberbuka karena hari sudah malam. Tentu saja aku tidak berani mengabaikanperintah beliau. Aku segera bangun dari tidur dan langsung menghabiskanmakanan itu.” kata Abu Nawas tanpa perasaa bersalah secuil pun.Sambil menahan rasa lapar yang menyayat-nyayat Pendeta dan Ahli Yoga salingberpandangan satu sama lain.Kejengkelan Abu Nawas terobati.Kini mereka sadar bahwa tidak ada gunanya coba-coba mempermainkan AbuNawas, pasti hanya akan mendapat celaka sendiri.oo000ooTugas Yang MustahilAbu Nawas belum kembali. Kata istrinya ia bersarna seorang Pendeta danseorang Ahli Yoga sedang melakukan pengembaraan suci. Padahal saat iniBaginda amat membutuhkan bantuan Abu Nawas. Beberapa hari terakhir iniBaginda merencanakan membangun istana di awang-awang. Karena sebagian103dari raja-raja negeri sahabat telah membangun bangunan-bangunan yang luarbiasa.Baginda tidak ingin menunggu Abu Nawas iebih lama lagi. Beliau mengutusbeberapa orang kepercayaannya untuk mencari Abu Nawas. Mereka tidakberhasil menemukan Abu Nawas kerena Abu Nawas ternyata sudah berada dirumah ketika mereka baru berangkat.Abu Nawas menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid. Baginda amat riang.Saking gembiranya beliau mengajak Abu Nawas bergurau. Setelah saling tukarmenukar cerita-cerita lucu, lalu Baginda mulai mengutarakan rencananya.”Aku sangat ingin membangun istana di awang-awang agar aku Iebih terkenal diantara raja-raja yang lain. Adakah kemungkinan keinginanku itu terwujud,wahai Abu Nawas?””Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan di dunia ini Paduka yang mulia.” kataAbu Nawas berusaha mengikuti arah pembicaraan Baginda.”Kalau menurut pendapatmu hal itu tidak mustahil diwujudkan maka akuserahkan sepenuhnya tugas ini kepadamu.” kata Baginda puas.104Abu Nawas terperanjat. la menyesal telah mengatakan kemungkinanmewujudkan istana di awang-awang. Tetapi nasi telah menjadi bubur. Katakatayang telah terlanjur didengar oleh Baginda tidak mungkin ditarik kembali.Baginda memberi waktu Abu Nawas beberapa minggu. Rasanya tak ada yanglebih berat bagi Abu Nawas kecuali tugas yang diembannya sekarang.Jangankan membangun istana di langit, membangun sebuah gubuk kecil punsudah merupakan hal yang mustahil dikerjakan. Hanya Tuhan saja yang mampumelakukannya. Begitu gumam Abu Nawas.Hari-hari berlalu seperti biasa. Tak ada yang dikerjakan Abu Nawas kecualimemikirkan bagaimana membuat Baginda merasa yakin kalau yang dibangun itubenar-benar istana di langit. Seluruh ingatannya dikerahkan dan dihubunghubungkan.Abu Nawas bahkan berusaha menjangkau masa kanak-kanaknya.Sampai ia ingat bahwa dulu ia pernah bermain layang-layang.Dan inilah yang membuat Abu Nawas girang. Abu Nawas tidak menyia-nyiakanwaktu lagi. la bersama beberapa kawannya merancang layang-layang raksasaberbentuk persegi empat. Setelah rampung baru Abu Nawas melukis pintu-pintuserta jendela-jendela dan ornamen-ornamen lainnya.Ketika semuanya selesai Abu Nawas dan kawan-kawannya menerbangkanlayang-layang raksasa itu dari suatu tempat yang dirahasiakan.105Begitu layang-layang raksasa berbentuk istana itu mengapung di angkasa,penduduk negeri gempar.Baginda Raja girang bukan kepalang. Benarkah Abu Nawas berhasil membangunistana di langit? Dengan tidak sabar beliau didampingi beberapa orangpengawal bergegas menemui Abu Nawas.Abu Nawas berkata dengan bangga.”Paduka yang mulia, istana pesanan Paduka telah rampung.””Engkau benar-benar hebat wahai Abu Nawas.” kata Baginda memuji AbuNawas.”Terima kasih Baginda yang mulia.” kata Abu Nawas “Lalu bagaimana caranyaaku ke sana?” tanya Baginda. “Dengan tambang, Paduka yang mulia.” kata AbuNawas.”Kalau begitu siapkan tambang itu sekarang. Aku ingin segera melihat istanakudari dekat.” kata Baginda tidak sabar.106″Maafkan hamba Paduka yang mulia. Hamba kemarin lupa memasang tambangitu. Sehingga seorang kawan hamba tertinggal di sana dan tidak bisa turun.”kata Abu Nawas. .”Bagaimana dengan engkau sendiri Abu Nawas? Dengan apa engkau turun kebumi?” tanya Baginda.”Dengan menggunakan sayap Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas denganbangga.”Kalau begitu buatkan aku sayap supaya aku bisa terbang ke sana.” kataBaginda.”Paduka yang mulia, sayap itu hanya bisa diciptakan dalam mimpi.” kata AbuNawas menjelaskan.”Engkau berani mengatakan aku gila sepertimu?” tanya Baginda sambil melotot.”Ya, Baginda. Kurang lebih seperti itu.” jawab Abu Nawas tangkas.107″Apa maksudmu?” tanya Baginda lagi.”Baginda tahu bahwa membangun istana di awang-awang adalah pekerjaanyang mustahil dilaksanakan. Tetapi Baginda tetap menyuruh hambamengerjakannya. Sedangkan hamba juga tahu bahwa pekerjaan itu mustahildikerjakan, Tetapi hamba tetap menyanggupi titah Baginda yang tidak masukakal itu.” kata Abu Nawas berusaha meyakinkan Baginda.Tanpa menoleh Baginda Raja kembali ke istana diiring para pengawalnya. AbuNawas berdiri sendirian sambi memandang ke atas melihat istana terapung diawang-awang.”Sebenarnya siapa diantara kita yang gila?” tanya Baginda mulai jengkel.”Hamba kira kita berdua sama-sama tidak waras Tuanku.” jawab Abu Nawastanpa ragu.oo000ooOrang-Orang Kanibal108Saat itu Abu Nawas baru saja pulang dari istana setelah dipanggil Baginda. latidak langsung pulang ke rumah melainkan berjalan-jalan lebih dahulu keperkampungan orang-orang badui. Ini memang sudah menjadi kebiasaan AbuNawas yang suka mempelajari adat istiadat orang-orang badui.Pada suatu perkampungan, Abu Nawas sempat melihat sebuah rumah besaryang dari luar terdengar suara hingar bingar seperti suara kerumunan puluhanorang. Abu tertarik, ingin melihat untuk apa orang-orang badui berkumpul disana, ternyata di rumah besar itu adalah tempat orang badui menjual buburharis yaitu bubur khas makanan para petani. Tapi Abu Nawas tidak segeramasuk ke rumah besar itu, merasa lelah dan ingin beristirahat maka ia terusberjalan ke arah pinggiran desa.Abu Nawas beristirahat di bawah sebatang pohon rindang. la merasa hawa disitu amat sejuk dan segar sehingga tidak berapa lama kemudian mehgantuk dantertidur di bawah pohon.Abu Nawas tak tahu berapa lama ia tertidur, tahu-tahu ia merasa dilempar keatas lantai tanah. Brak! lapun tergagap bangun.”Kurang ajar! Siapa yang melemparku?” tanyanya heran sembari menengokkanan kiri.Ternyata ia berada di sebuah ruangan pengap berjeruji besi. Seperti penjara.109″Hai keluarkan aku! Kenapa aku dipenjara di sini.!”Tidak berapa lama kemudian muncul seorang badui bertubuh besar. Abu Nawasmemperhatikan dengan seksama, ia ingat orang inilah yang menjua! bubur harisdi rumah besar di tengah desa.”Jangan teriak-teriak, cepat makan ini !” kata orang sembari menyodorkanpiring ke lubang ruangan. Abu Nawas tidak segera makan. “Mengapa akudipenjara?””Kau akan kami sembelih dan akan kami jadikan campuran bubur haris.””Hah? Jadi yang kau jual di tengah desa itu bubur manusia?””Tepat…. itulah makanan favorit kesukaan kami.””Kami…? Jadi kalian sekampung suka makan daging manusia?”110″lya, termasuk dagingmu, sebab besok pagi kau akan kami sembelih!””Sejak kapan kalian makan daging manusia?””Oh.., sejak lama …. setidaknya sebulan sekali kami makan daging manusia.””Dari mana saja kalian dapatkan daging manusia?””Kami tidak mencari ke mana-mana, hanya setiap kali ada orang masuk ataulewat di desa kami pasti kami tangkap dan akhirnya kami sembelih untukdijadikan butjur.” Abu Nawas diam sejenak. la berpikir keras bagaimanacaranya bisa meloloskan diri dari bahaya maut ini. la merasa heran, kenapaBaginda tidak mengetahui bahwa di wilayah kekuasaannya ada kanibalisme, adamanasia makan manusia.”Barangkali para menteri hanya melaporkan hal yang baik-baik saja. Merekatidak mau bekerja keras untuk memeriksa keadaan penduduk.” pikir AbuNawas. “Baginda harus mengetahui hal seperti ini secara langsung, kalauperlu….!”111Setelah memberi makan berupa bubur badui itu meninggalkan Abu Nawas. AbuNawas tentu saja tak berani makan bubur itu jangan-jangan bubur manusia. lamenahan lapar semalaman tak tidur, tubuhnya yang kurus makin nampak kurus.Esok harinya badui itu datang lagi.”Bersiaplah sebentar lagi kau akan mati.”Abu Nawas berkata,”Tubuhku ini kurus, kalaupun kau sembelih kau tidak akanmemperoleh daging yang banyak. Kalau kau setuju nanti sore akan kubawakantemanku yang bertubuh gemuk. Dagingnya bisa kalian makan selama lima hari.””Benarkah?””Aku tidak pernah bohong!”Orang badui itu diam sejenak, ia menatap tajam kearah Abu Nawas. Entahkenapa akhirnya orang badui itu rnempercayai dan melepaskan Abu Nawas.Abu Nawas langsung pergi ke istana menghadap Bagirida.112Setelah berbasa-basi maka Baginda bertanya kepada Abu Nawas.”Ada apa Abu Nawas? Kau datang tanpa kupanggil?””Ampun Tuanku, hamba barus saja pulang dari suatu desa yang aneh.””Desa aneh, apa keanehannya?””Di desa tersebut ada orang menjual bubur haris yang khas dan sangat lezat. Disamping itu hawa di desa itu benar-benar sejuk dan segar.””Aku ingin berkunjung ke desa itu. Pengawal! Siapkan pasukan!””Ampun Tuanku, jangan membawa-bawa pengawal. Tuanku harus menyamarjadi orang biasa.””Tapi ini demi keselamatanku sebagai seorang raja”113″Ampun Tuanku, jika bawa-bawa tentara maka orang sedesa akan ketakukandan Tuanku takkan dapat melihat orang menjual bubur khas itu.””Baiklah, kapan kita berangkat?””Sekarang juga Tuanku, supaya nanti sore kita sudah datang di perkampunganitu.”Demikianlah, Baginda dengan menyamar sebagai sorang biasa mengikuti AbuNawas ke perakmpungan orang-orang badui kanibal.Abu Nawas mengajak Baginda masuk ke rumah besar tempat orang-orangmakan bubur. Di sana mereka membeli bubur.Baginda memakan bubur itu dengan lahapnya.”Betul katamu, bubur ini memang lezat!” kata Baginda setelah makan.”Kenapabuburmu tidak kau makan Abu Nawas.”114″Hamba masih kenyang,” kata Abu Nawas sambil melirik dan berkedip ke arahpenjual bubur.Setelah makan, Baginda diajak ke tempat pohon rindang yang hawanya sejuk.”Betul juga katamu, di sini hawanya memang sejuk dan segar ….. ahhhhh…….. aku kok mengantuk sekali.”kataBaginda.”Tunggu Tuanku, jangan tidur dulu….hamba pamit mau buang ari kecil disemar belukar sana.””Baik, pergilah Abu Nawas!”Baru saja Abu Nawas melangkah pergi, Baginda sudah tertidur, tapi ia segeraterbangun lagi ketika mendengar suara bentakan keras.”Hai orang gendut! Cepat bangun ! Atau kau kami sembelih di tempat ini!”ternyata badui penjual bubur sudah berada di belakang Baginda dan menghunuspedang di arahkan ke leher Baginda.115″Apa-apaan ini!” protes Baginda.”Jangan banyak cakap! Cepat jalan !”Baginda mengikuti perintah orang badui itu dan akhirnya dimasukkan ke dalampenjara.”Mengapa aku di penjara?””Besok kau akan kami sembelih, dagingmu kami campur dengan tepung gandumdan jaduilah bubur haris yang terkenal lezat. Hahahahaha !””Astaga jadi yang kumakan tadi…?””Betul kau telah memakan bubur kami, bubur manusia.””Hoekkkkk….!” Baginda mau muntah tapi tak bisa.116″Sekarang tidurlah, berdoalah, sebab besok kau akan mati.””Tunggu….””Mau apa lagi?””Berapa penghasilanmu sehari dari menjual bubur itu?””Lima puluh dirham!””Cuma segitu?””lya!””Aku bisa memberimu lima ratus dirham hanya dengan menjual topi.”117″Ah, masak?””Sekarang berikan aku bahan kain untuk membuat topi. Besok pagi boleh kailcoba menjual topi buatanku itu ke pasar. Hasilya boleh kau miliki semua !”Badui itu ragu, ia berbalik melangkah pergi. Tak lama kemudian kembali lagidengan bahan-bahan untuk membuat topi.Esok paginya Baginda menyerahkan sebuah topi yang bagus kepada si badui.Baginda berpesan,”Juallah topi ini kepada menteri Farhan di istana Bagdad.”Badui itu menuruti saran Baginda.Menteri Farhan terkejut saat melihat seorang badui datang menemuinya.”Mau apa kau?” tanya Farhan.”Menjual topi ini…”118Farhan melirik, topi itu memang bagus. la mencoba memeriksanya danalangkah terkejutnya ketika melihat hiasan berupa huruf-huruf yang maknanyaadalah surat dari Baginda yang ditujukan kepada dirinya.”Berapa harga topi ini?””Lima ratus dirham tak boleh kurang!””Baik aku beli !”Badui itu langsunng pulang dengan wajah ceria. Sama sekali ia tak tahu jikaFarhan telah mengutus seorang prajurit untuk mengikuti langkahnya. Siangnyaprajurit itu datang lagi ke istana dengan melaporkan lokasi perkampungan sipenjual bubur.Farhan cepat bertidak sesuai pesan di surat Baginda. Seribu orang tentarabersenjata lengkap dibawa ke perkampungan. Semua orang badui di kampungitu ditangkapi sementara Baginda berhasil diselamatkan.”Untung kau bertindak cepat, terlambat sedikit saja aku sudah jadi bubur!” kataBaginda kepada Farhan.119″Semua ini gara-gara Abu Nawas!” kata Farhan.”Benar! Tapi juga salahmu! Kau tak pernah memeriksa perkampungan ini bahwapenghuninya adalah orang-orang kanibal!””Bagaimanapun Abu Nawas harus dihukum!””Ya, itu pasti!””Hukuman mati!” sahut Farhan.”Hukuman mati? Ya, kita coba apakah dia bisa meloloskan diri?” sahut Baginda.oo000ooLolos Dari Maut120Karena dianggap hampir membunuh Baginda maka Abu Nawas mendapatcelaka. Dengan kekuasaan yang absolut Baginda memerintahkan prajuritprajuritnyalangsung menangkap dan menyeret Abu Nawas untuk dijebloskan kepenjara.Waktu itu Abu Nawas sedang bekerja di ladang karena musim tanam kentangakan tiba. Ketika para prajurit kerajaan tiba, ia sedang mencangkul. Dan tanpaalasan yang jelas mereka langsung menyeret Abu Nawas sesuai dengan titahBaginda. Abu Nawas tidak berkutik. Kini ia mendekam di dalam penjara.Beberapa hari lagi kentang-kentang itu harus ditanam. Sedangkan istrinya tidakcukup kuat untuk melakukan pencangkulan. Abu Nawas tahu bahwa tetanggatetangganyatidak akan bersedia membantu istrinya sebab mereka juga sibukdengan pekerjaan mereka masing-masing. Tidak ada yang bisa dilakukan didalam ‘penjara kecuali mencari jalan keluar.Seperti biasa Abu Nawas tidak bisa tidur dan tidak enak makan. la hanya makansedikit. Sudah dua hari ia meringkuk di dalam penjara. Wajahnya murung.Hari ketiga Abu Nawas memanggil seorang pengawal. “Bisakah aku minta tolongkepadamu?” kata Abu Nawas membuka pembicaraan.”Apa itu?” kata pengawal itu tanpa gairah.121″Aku ingin pinjam pensil dan selembar kertas. Aku ingin menulis surat untukistriku. Aku harus menyampaikan sebuah rahasia penting yang hanya bolehdiketahui oleh istriku saja.”Pengawal itu berpikir sejenak lalu pergi meninggalkan Abu Nawas.Ternyata pengawal itu merighadap Baginda Raja untuk melapor.Mendengar laporan dari pengawal, Baginda segera menyediakan apa yangdiminta Abu Nawas. Dalam hati, Baginda bergumam mungkin kali ini ia bisamengalahkan Abu Nawas:Abu Nawas menulis surat yang berbunyi: “Wahai istriku, janganlah engkausekali-kali menggali ladang kita karena aku menyembunyikan harta karun dansenjata di situ. Dan tolong jangan bercerita kepada siapa pun.”Tentu saja surat itu dibaca oleh Baginda karena beliau ingin tahu apasebenarnya rahasia Abu Nawas. Setelah membaca surat itu Baginda merasapuas dan langsung memerintahkan beberapa pekerja istana untuk menggaliladang Abu Nawas. Dengan peralatan yarig dibutuhkan mereka berangkat danlangsung menggali ladang Abu Nawas. Istri Abu Nawas merasa heran.Mungkinkah suaminya minta tolong pada mereka?122Pertanyaan itu tidak terjawab karena mereka kembali ke istana tanpa pamit.Mereka hanya menyerahkan surat Abu Nawas kepadanya.Lima hari kemudian Abu Nawas menerima surat dari istrinya. Surat ituberbunyi: “Mungkin suratmu dibaca sebelum diserahkan kepadaku. Karenabeberapa pekerja istana datang ke sini dua hari yang lalu, mereka menggaliseluruh ladang kita. Lalu apa yang harus kukerjakan sekarang?”Rupanya istrinya Abu Nawas belum mengerti muslihat suaminya. Tetapi denganbijaksana Abu Nawas membalas: “Sekarang engkau bisa menanam kentang di ladangtanpa harus menggali, wahai istriku.”Kali ini Baginda tidak bersedia membaca surat Abu Nawas lagi. Bagi.nda makinmengakui keluarbiasaan akal Abu Nawas. Bahkan di dalam penjara pun AbuNawas masih bisa melakukan pencangkulan.********Abu Nawas masih mengeram di penjara. Namun begitu Abu Nawas masih bisamenyelesaikan pekerjaannya dengan memakai tangan orang lain.123Baginda berpikir. Sejenak kemudian beliau segera memerintahkan sipir penjarauntuk membebaskan Abu Nawas. Baginda Raja tidak ingin menanggung resikoyang lebih buruk. Karena akal Abu Nawas tidak bisa ditebak. Bahkan di dalampenjara pun Abu Nawas masih sanggup menyusahkan prang. Keputusan yangdibuat Baginda Raja untuk melepaskan Abu Nawas memang sangat tepat.Karena bila sampai Abu Nawas bertambah sakit hati maka tidak mustahilkesusahan yang akan ditimbulkan akan semakin gawat.Kini hidung Abu Nawas sudah bisa menghisap udara kebebasan di luar. Istri AbuNawas menyambut gembira kedatangan suami yang selama ini sangatdirindukan. Abu Nawas juga riang. Apalagi melihat tanaman kentangnya akanmembuahkan hasil yang bisa dipetik dalam waktu dekat.Abu Nawas memang girang bukan kepalang tetapi ia juga merasa gundah.Bagaimana Abu Nawas tidak merasa gundah gulana sebab Baginda sudah tidaklagi memakai perangkap untuk memenjarakan dirinya. Tetapi Baginda Rajalangsung memenjarakannya. Maka tidak mustahil bila suatu ketika nantiBaginda langsung menjatuhkan hukuman pancung. Abu Nawas yakin bahwa saatini Baginda pasti sedang merencanakan sesuatu. Abu Nawas menyiapkan payunguntuk menyambut hujan yang akan diciptakan Baginda Raja. Pada hari itu AbuNawas mengumumkan dirinya sebagai ahli nujum atau tukang ramal nasib.Sejak membuka praktek ramal-meramal nasib, Abu Nawas sering mendapatpanggilan dari orang-orang terkenal. Kini Abu Nawas tidak saja dikenal sebagaiorang yang hartdal daiam menciptakan gelak tawa tetapi juga sebagai ahliramal yang jitu.124Mendengar Abu Nawas mendadak menjadi ahli ramal maka Baginda Raja HarunAl Rasyid merasa khawatir. Baginda curiga jangan-jangan Abu Nawas bisa membahayakankerajaan. Maka tanpa pikir panjang Abu Nawas ditangkap.Abu Nawas sejak semula yakin Baginda Raja kali ini berniat akan menghabisiriwayatnya. Tetapi Abu Nawas tidak begitu merasa gentar. Mungkin Abu Nawassudah mempersiapkan tameng.Setelah beberapa hari meringkuk di dalam penjara, Abu Nawas digiring menujutempat kematian. Tukang penggal kepala sudah menunggu dengan pedang yangbaru diasah. Abu Nawas menghampiri tempat penjagalan dengan amat tenang.Baginda merasa kagum terhadap ketegaran Abu Nawas. Tetapi Baginda jugabertanya-tanya dalam hati mengapa Abu Nawas begitu tabah menghadapidetik-detik terakhir hidupnya. Ketika algojo sudah siap mengayunkan pedang,Abu Nawas tertawa-tawa sehingga Baginda menangguhkan pemancungan.Beliau bertanya, “Hai Abu Nawas, apakah engkau tidak merasa ngerimenghadapi pedang algojo?””Ngeri Tuanku yang mulia, tetapi hamba juga merasa gembira.” jawab AbuNawas sambil tersenyum.”Engkau merasa gembira?” tanya Baginda kaget.125″Betul Baginda yang mulia, karena tepat tiga hari setelah kematian hamba,maka Baginda pun akan mangkat menyusul hamba ke Hang lahat, karena hambatidak bersalah sedikit pun.” kata Abu Nawas tetap tenang.Baginda gemetar mendengar ucapan Abu Nawas. dan tentu saja hukumanpancung dibatalkan.Abu Nawas digiring kembali ke penjara. Baginda memerintahkan agar AbuNawas diperlakukan istimewa. Malah Baginda memerintahkan supaya AbuNawas disuguhi hidangan yang enak-enak. Tetapi Abu Nawas tetap tidak kerasatinggal di penjara. Abu Nawas berpesan dan setengah mengancam kepadapenjaga penjara bahwa bila ia terus-menerus mendekam dalam penjara ia bisajatuh sakit atau meninggal Baginda Raja terpaksa membebaskan Abu Nawassetelah mendengar penuturan penjaga penjara.*****Cita-cita atau obsesi menghukum Abu Nawas sebenarnya masih bergolak,namun Baginda merasa kehabisan akal untuk menjebak Abu Nawas.Seorang penasihat kerajaan kepercayaan Baginda Raja menyarankan agarBaginda memanggil seorang ilmuwan-ulama yang berilmu tinggi untukmenandingi Abu Nawas. Pasti masih ada peluang untuk mencari kelemahan AbuNawas. Menjebak pencuri harus dengan pencuri.Dan ulama dengan ulama.Baginda menerima usul yang cemerlang itu dengan hati bulat.126Setelah ulama yang berilmu tinggi berhasil ditemukan, Baginda Rajamenanyakan cara terbaik menjerat Abu Nawas. Ulama itu memberi tahu caracarayang paling jitu kepada Baginda Raja. Baginda Raja manggut-manggutsetuju. Wajah Baginda tidak lagi murung. Apalagi ulama itu menegaskan bahwaramalan Abu Nawas tentang takdir kematian Baginda Raja sama sekali tidakmempunyai dasar yang kuat. Tiada seorang pun manusia yang tahu kapan dandi bumi mana ia akan mati apalagi tentang ajal orang lain.Ulama andalan Baginda Raja mulai mengadakan persiapan seperlunya untukmemberikan pukulan fatal bagi Abu Nawas. Siasat pun dijalankan sesuairencana. Abu Nawas terjerembab ke lubang siasat sang ulama. Abu Nawasmelakukan kesalahan yang bisa menghantarnya ke tiang gantungan atau tempatpemancungan.Benarlah peribahasa yang berbunyi sepandai-pandai tupai melompat pasti suatusaat akan terpeleset. Kini, Abu Nawas benar-benar mati kutu. Sebentar lagi iaakan dihukum mati karena jebakan sang ilmuwan-ulama.Benarkah Abu Nawas sudah keok?Kita lihat saja nanti.127Banyak orang yang merasa simpati atas nasib Abu Nawas, terutama orang-orangmiskin dan tertindas yang pernah ditolongnya. Namun derai air mata parapecinta dan pengagum Abu Nawas tak akan mampu menghentikan hukumanmati yang akan dijatuhkan.Baginda Raja Harun Al Rasyid benar-benar menikmati kernenangannya. Belumpernah Baginda terlihat seriang sekarang.Keyakinan orang banyak bertambah mantap. Hanya sat orang yang tetap tidakyakin bahwa hidup Abu Nawas aka berakhir setragis itu, yaitu istri Abu Nawas.Bukankah Alia Azza Wa Jalla lebih dekat daripada urat leher. Tidak ada yangtidak mungkin bagi Allah Yang Maha Gagah. Dan kematian adalah mutlakurusan-Nya. Semakin dekat hukuman mati bagi Abu Nawas. Orang banyaksemakin resah. Tetapi bagi Abu Nawas malah sebaliknya. Semakin dekathukuman bagi dirinya, semakin tegar hatinya.Baginda Raja tahu bahwa ketenangan yang ditampilkan Abu Nawas hanyalahmerupakan bagian dari tipu dayanya. Tetapi Baginda Raja telah bersumpahpada diri sendiri bahwa beliau tidak akan terkecoh untuk kedua kalinya.Sebaliknya Abu Nawas juga yakin, selama nyawa masih melekat maka harapanakan terus menyertainya. Tuhan tidak mungkin menciptakan alam semesta initanpa ditaburi harapan-harapan yang menjanjikan. Bahkan dalam keadaan yangbagaimanapun gawatnya.Keyakinan seperti inilah yang tidak dimiliki oleh Baginda Raja dan ulama itu.Seketika suasana menjadi hening, sewaktu Bagin Raja memberi sambutansingkattentang akan dilaksanakan hukuman mati atas diri terpidana mati Abu128Nawas. Kemudian tanpa memperpanjang waktu lagi Baginda Raja menanyakanpermintaan terakhir Abu Nawas. Dan pertanyaan inilah yang paling dinantinantikanAbu Nawas.”Adakah permintaan yang terakhir””Ada Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas singkat.”Sebutkan.” kata Baginda.”Sudilah kiranya hamba diperkenankan memilih hukuman mati yang hambaanggap cocok wahai Baginda yang mulia.” pinta Abu Nawas.”Baiklah.” kata Baginda menyetujui permintaan Abu Nawas..”Paduka yang mulia, yang hamba pinta adalah bila pilihan hamba benar hambabersedia dihukum pancung, tetapi jika pilihan hamba dianggap salah makahamba dihukum gantung saja.” kata Abu Nawas memohon.”Engkau memang orang yang aneh. Dalam saat-saat yang amat genting punengkau masih sempat bersenda gurau. Tetapi ketahuilah bagiku segala tipu129muslihatmu hari ini tak akan bisa membawamu kemana-mana.” kata Bagindasambil tertawa.”Hamba tidak bersenda gurau Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas bersungguhsungguh.Baginda makin terpingkal-pingkal. Belum selesai Baginda Raja tertawa-tawa,Abu Nawas berteriak dengan nyaring.”Hamba minta dihukum pancung!”Semua yang hadir kaget. Orang banyak belum mengerti mengapa Abu Nawasmembuat keputusan begitu. Tetapi kecerdasan otak Baginda Raja menangkapsesuatu yang lain. Sehingga tawa Baginda yang semula berderai-deraimendadak terhenti. Kening Baginda berkenyit mendengar ucapan Abu Nawas.Baginda Raja tidak berani menarik kata-katanya karena disaksikan oleh ribuanrakyatnya.Beliau sudah terlanjur mengabulkan Abu Nawas menentukan hukuman matiyang paling cocok untuk dirinya.130Kini kesempatan Abu Nawas membela diri.”Baginda yang mulia, hamba tadi mengatakan bahwa hamba akan dihukumpancung. Kalau pilihan hamba benar maka hamba dihukum gantung. Tetapi dimanakah letak kesalahan pilihan hamba sehingga hamba hams dihukumgantung. Padahal hamba telah memilih hukuman pancung?”Olah kata Abu Nawas memaksa Baginda Raja dan ulama itu tercengang. Benarbenarluar biasa otak Abu Nawas ini. Rasanya tidak ada lagi manusia pintarselain Abu Nawas di negeri Baghdad ini.”Abu Nawas aku mengampunimu, tapi sekarang jawablah pertanyaanku ini.Berapa banyakkah bintang di langit?””Oh, gampang sekali Tuanku.””Iya, tapi berapa, seratus juta, seratus milyar?” tanya Baginda.”Bukan Tuanku, cuma sebanyak pasir di pantai.”131″Kau ini…. bagaimana bisa orang menghitung pasir di pantai?””Bagaimana pula orang bisa menghitung bintang di langit?””Ha ha ha ha ha…! Kau memang penggeli hati.Kau adalah pelipur laraku. Abu Nawas mulai sekarang jangan segan-segan,sering-seringlah datang ke istanaku. Aku ingin selalu mendengar leluconleluconmuyang baru!””Siap Baginda !”

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: